Dianugerahi Gelar Wali Kota Cerewet, Akankah Risma Tinggalkan PDI Perjuangan?

Ada hal menarik tentang Risma di mata Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Wali Kota yang bercucur air mata di acara Mata Najwa itu sebagai Wali Kota Cerewet.
Saeno | 02 Maret 2014 11:55 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri (kanan) duduk berdampingan dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) usai menikmati wisata kuliner di Taman Bungkul, Surabaya, Jatim, Sabtu (1/3/2014). - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, SURABAYA - Fase kehebohan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, yang hendak mundur, sedang memasuki pendinginan alias cooling down.

Ada hal menarik tentang Risma di mata Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Wali Kota yang bercucur air mata di acara Mata Najwa itu sebagai Wali Kota Cerewet.

Menurut Megawati Soekarnoputri, Tri Rismaharini merupakan pejabat yang cerewet tapi baik.

"Bu Risma itu seorang ibu dan cerewet lagi, bahkan dia lebih cerewet dari saya, tapi dia orangnya baik," kata Mega.

Pernyataan di hadapan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Surabaya, Ubaya, Sabtu, itu seakan menyiratkan bahwa Mega sudah memahami apa yang menjadi kegundahan Risma.

Saat mengawali kuliah umum bertajuk Memperkokoh Kebhinnekatunggalikaan Indonesia: dari Primordial ke Sipil-Politik, Mega menyampaikan ihwal kecerewetan Risma sambil menunjuk orang bersangkutan.

"Karena itu, saya katakan kepada teman-teman pers bahwa Bu Risma dan Pak Wisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya) tidak ada masalah, saya minta Bu Risma tetap memimpin Surabaya," katanya.

Dalam acara yang juga menampilkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo itu, Presiden ke-5 RI itu meminta Risma memimpin Surabaya dengan bekerja bersama Wisnu Sakti Buana secara erat.

"Saya katakan bahwa tahun ini bukan saja tahun politik, tapi tahun yang menentukan, apakah bangsa ini sudah dapat berdemokrasi secara benar seperti tahun 1955 atau masih tetap belajar berdemokrasi karena di sana-sini masih melakukan kecurangan," kata Mega.

Oleh karena itu, Megawati mengajak para mahasiswa untuk menegakkan kepala dan bangga menjadi bangsa Indonesia, sehingga tidak mengerdilkan diri dengan selalu meminta bantuan kepada orang asing.

"Kita jangan bangga menerima bantuan dari orang asing, apakah bantuan yang sebenarnya utang, atau pun investasi, karena pengutang atau investor yang datang itu sebenarnya tidak punya apa-apa dan mereka justru ingin mengambil kekayaan kita," katanya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menilai Risma dan Wisnu sebenarnya merupakan pasangan yang sangat rukun, tapi karena tahun ini merupakan tahun politik, maka semuanya "digoreng".

"Mereka rukun banget, lho, lha wong berangkat satu mobil, di ruang tunggu (bandara Juanda Surabaya) pun bersama, tapi ya itu tadi ada yang 'menggoreng' yang senang kalau kita enggak rukun," kata Jokowi.

Bahkan, Jokowi sempat bergurau tentang kebersamaan dirinya dengan wakilnya yang dikenal dengan panggilan Ahok.

"Saya sudah blusukan bersama Pak Ahok, padahal saya berbeda dengannya," katanya.

Ia pun mencontohkan perbedaan dirinya dan Ahok. "Kalau Pak Ahok itu memarahi pejabat, maka esoknya pejabat itu langsung dipecat, tapi kalau saya enggak marah tapi esoknya sama," katanya tersenyum.

Tanpa menyebut soal Wisnu, Jokowi justru memuji kinerja Risma selama memimpin Kota Pahlawan.

"Di Jakarta, saya membangun sejumlah taman, tapi saya masih ingin melihat Taman Bungkul," katanya.

Nah, setelah mendapat pujian dari Jokowi dan "dianugerahi" gelar wali kota cerewet oleh Megawati, apakah Risma tetap akan mundur dari posisi wali kota Surabaya sekaligus meninggalkan PDI Perjuangan? Kita tunggu saja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
walikota surabaya tri rismaharini

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top