Kebutuhan Terus Meningkat, Program Pendidikan Pariwisata Akan Diperbanyak

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memperbanyak program pendidikan formal kepariwisataan hingga jenjang tertinggi (doktor) guna meningkatkan ketersediaan tenaga profesional pada sektor pariwisata.
Dewi Andriani | 16 Februari 2014 15:50 WIB
Kemendikbud akan perbanyak program pendidikan pariwisata. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memperbanyak program pendidikan formal kepariwisataan hingga jenjang tertinggi (doktor) guna meningkatkan ketersediaan tenaga profesional pada sektor pariwisata.

Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso menuturkan pengakuan pariwisata sebagai ilmu mandiri di Indonesia memang terbilang baru melalui Surat Dirjen Dikti Depdiknas No 947/D/T/2008. Dalam surat tersebut Dirjen Dikti menyetujui pembukaan program akademik S1 Pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali dan STP Bandung.

Setelah itu, bermunculan program S1 Pariwisata di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Pancasila, STP Trisakti, STP Sahid, Universitas Pelita Harapan, dan sebagainya. Hal tersebut, sambungnya, menunjukan bahwa kebutuhan lulusan pariwisata sangat tinggi seiring dengan perkembangan industri pariwisata di Indonesia yang terus menggeliat.

“Karena itu, perlu peningkatan tenaga professional, mulai dari D1, D2, D3, D4, juga S1 terapan, Magister, Magister Terapan, Doktor, dan Doktor Terapan,” ucapnya dalam workshop Eksistensi Ilmu dan Program Studi S1 Pariwisata, Kamis (13/2/2014).

Sebab, sambungnya, kebutuhan SDM pariwisata tidak hanya yang terampil sebagai tenaga teknis atau hospitality dan pariwisata, tetapi juga di bagian teknokrat, akademisi/peneliti, perencana, dan tenaga professional lainnya.

Sementara itu, Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sepakat bila semakin banyak perguruan tinggi yang menyediakan program S2 dan S3 di bidang pariwisata yang saat ini baru tersedia di Universitas Udayana.

Menurutnya, setiap negara saat ini berlomba-lomba untuk memperbanyak tenaga professional pariwisata melalui jalur akademis. “Jika kita ingin bersaing dengan negara lain, tentu harus memiliki ilmu yang kuat, tidak hanya melalui sertifikasi tenaga teknis dan terampil tetapi juga professional, apalagi kita akan menghadapi AEC 2015. Jangan sampai posisi-posisi professional justru dikuasai oleh asing,” ucapnya.

Sebagai catatan, saat ini daya saing kepariwisataan Indonesia secara keseluruhan memang membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari peringkat 74 naik ke peringkat 70 dari 140 negara. Namun, masih kalah dibandingkan Singapura (peringkat 10), Malaysia (peringkat 34), dan Thailand yang berada di posisi 43.

Tag : kemendikbud
Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top