Makanan dan Sandal Picu Inflasi di Pekanbaru

Vega Aulia Pradipta | 02 Desember 2013 18:02 WIB

Bisnis.com, PEKANBARU—Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi November 2013 di Kota Pekanbaru dan Kota Dumai, keduanya sama-sama mencapai 0,45%. Laju inflasi tahun kalender di Pekanbaru 8,42%, sedangkan Dumai 8,39%. Sementara, inflasi year on year (yoy) di Pekanbaru 8,87%, sedangkan Dumai 9,61%.

Kepala BPS Provinsi Riau Mawardi Arsyad mengatakan inflasi baik di Pekanbaru maupun di Dumai, paling tinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan, yakni masing-masing 1,04% dan 1,09%.

“Dari 10 ibukota provinsi di Sumatra, inflasi tertinggi itu terjadi di Medan 0,61%, kedua itu di Pekanbaru 0,45%,” ujarnya, Senin (1/12/2013).

Beberapa komoditas yang harganya naik selama November di Pekanbaru di antaranya adalah sandal karet (naik 33,52%), wortel (22,23%), bawang merah (14,52%), cabe merah (10,56%), kembang kol (9,01%), dan ongkos jahit (7,95%).

“Saya kurang tahu juga kenapa sandal karet harganya naik. Kalau ongkos jahit naik itu mungkin karena tren akhir tahun ini, banyak orang yang buat baju baru sehingga permintaan naik dan harganya juga jadi naik,” ujarnya.

Sementara itu di Dumai, beberapa komoditas yang harganya naik adalah bayam (22,95%), telur ayam kampung (19,67%), kangkung (14,88), apel (12,81%), dan cabe merah (11,84%).

Dari 16 kota di Sumatra, 10 kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar 1,39%. Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 0,88%.

Tag : tekanan inflasi
Editor : Asep Dadan Muhanda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top