Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANJIR JAKARTA: Waspadai 7 penyakit saat banjir

JAKARTA: Selama musim banjir yang menimpa Indonesia, banyak ragam penyakit yang muncul. Setidaknya ada tujuh macam penyakit menular yang harus diwaspadai. 
- Bisnis.com 18 Januari 2013  |  01:59 WIB

JAKARTA: Selama musim banjir yang menimpa Indonesia, banyak ragam penyakit yang muncul. Setidaknya ada tujuh macam penyakit menular yang harus diwaspadai.
 

"Masyarakat perlu mewaspadai berbagai penyakit yang timbul pada musim hujan dan banjir," kata Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (17/1).
 

Dia memaparkan ketujuh macam penyakit menular tersebut, dan bagaimana langkah mengantisipasinya, sebagai berikut:


1. Penyakit diare.

Diare sangat erat kaitanya dengan kebersihan individu. Pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, potensi banjir meningkat.

Pada saat banjir, sumber-sumber air minum masyarakat, khususnya sumber air minum dari sumur dangkal akan banyak ikut tercemar. Disamping itu saat banjir biasanya akan terjadi pengungsian, dimana fasilitas dan sarana serba terbatas, termasuk ketersediaan air bersih.

Itu semua menjadi potensial menimbulkan penyakit diare, disertai penularan yang cepat.

Langkah antisipasinya, katanya, masyarakat untuk tetap waspada. Agar terhindar dari serangan penyakit diare, disarankan untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan/minum serta sehabis buang hajat.

Selain itu membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. Menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan  sampah disekitar tempat tinggal. Dan hubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala diare. 
 

2. Penyakit demam berdarah. 

Pada saat musim hujan, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti, yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah.

Hal itu dikarenakan pada musim hujan banyak sampah misalnya kaleng bekas, ban bekas, serta tempat-tempat tertentu terisi air, dan terjadi genangan untuk beberapa waktu. Genangan air itulah akhirnya menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut.

Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai penular penyakit, maka risiko terjadinya penularan juga semakin meningkat. Untuk itu diharapkan masyarakat ikut berpartisipasi secara aktif melalui gerakan 3M  (mengubur kaleng-kaleng bekas, menguras tempat penampungan air secara teratur, dan menutup tempat penyimpanan air dengan rapat).

Masyarakt juga diimbau agar segera membawa keluarganya ke sarana kesehatan, bila ada yang sakit dengan gejala  panas tinggi yang tidak jelas sebabnya, yang disertai adanya tanda-tanda perdarahan.
 

3. Penyakitl eptospirosis. 

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Termasuk salah satu penyakit zoonosis, karena ditularkan melalui hewan/binatang.

Di Indonesia hewan penular terutama adalah tikus melalui kotoran dan air kencingnya. Pada musim hujan terutama saat banjir, maka tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri.

Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia, dimana kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir tersebut.

Seseorang yang ada luka, kemudian bermain/terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran/kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, maka orang tersebut berpotensi dapat terinfeksi dan akan jatuh menjadi sakit.

Oleh karena itu untuk menghindari timbulnya penyakit leptospirosis, langkah antisipasinya dengan menekan dan hindari adanya tikus yang berkeliaran di sekitar kita.

Selalu menjaga kebersihan, hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama bila ada luka. Gunakan pelindung misalnya sepatu, bila terpaksa harus ke daerah banjir. Segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.
 

4. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Penyebab ini dapat berupa bakteri, virus dan berbagai mikroba lainnya. Gejala utama berupa batuk dan
demam, kalau berat, mungkin disertai sesak napas, nyeri dada dan lainnya.

Penanganannya meliputi istirahat, pengobatan simtomatis sesuai gejala, mungkin diperlukan pengabatan kausal untuk mengatasi penyebabnya, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penularan pada orang sekitar, a.l. dengan menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan.
 

5. Penyakit kulit yang dapat berupa infeksi, alergi atau bentuk lain.

Kalau musim banjir maka masalah utamanya adalah kebersihan yang tidak terjaga baik. Seperti juga pada ISPA, maka aktor berkumpulnya banyak orang, misalnya di tempat pengungsian korban banjir, juga berperan dalam penularan infeksi kulit.
 

6. Penyakit saluran cerna lain, misalnya demam tifoid.

Dalam hal ini juga faktor kebersihan makanan memegang peranan penting.
 

7. Perburukan penyakit kronik yang mungkin memang sudah diderita.

Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan berkepanjangan,
dan apalagi bila banjir ber-hari-hari. (arh)






 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Aprika Rani Hernanda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top