Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANJIR JABODETABEK: Organda catat pendapatan turun 60%

JAKARTA: Organisasi pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan atau Organda mencatat penurunan penghasilan sekitar 40%-60% per hari akibat banjir di wilayah Jakarta dan Tangerang yang menyebabkan akses jalan tidak dapat dilewati angkutan kota. Belum
- Bisnis.com 17 Januari 2013  |  19:14 WIB

JAKARTA: Organisasi pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan atau Organda mencatat penurunan penghasilan sekitar 40%-60% per hari akibat banjir di wilayah Jakarta dan Tangerang yang menyebabkan akses jalan tidak dapat dilewati angkutan kota.
 
Belum lagi untuk angkutan barang antar pulau yang tertahan sekitar 4-5 hari di pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni akibat banjir dan cuaca buruk.
 
Ketua Departemen Moda Angkutan Barang Organda Andre Silalahi mengatakan banjir di wilayah Jakarta dan Tangerang dampaknya cukup besar. Banjir menyebabkan akses jalan yang tidak bisa dilewati angkutan kota (angkutan kecil) seperti mikrolet.
 
"Karena ada pengalihan jalan untuk angkutan kota ini, jumlah penumpang menurun, belum lagi ditambah sekolah dan pasar juga banjir, akibatnya jumlah penumpang berkurang," kata Andre kepada Bisnis, Kamis (17/1/2013).
 
Dia menjelaskan akibat banjir, terjadi kemacetan yang parah karena banyak kendaraan mogok, ketinggian air 30 cm-50 cm, sejumlah kendaraan menumpuk karena tertahan banjir, dan jalan alternatif yang juga ikut macet.
 
"Akibat kondisi semua itu yang disebabkan banjir, terjadi penurunan penghasilan sekitar 40%-60% per hari," tuturnya.
 
Untuk angkutan barang antar pulau melalui penyeberangan, imbuh Andre, akses tol Merak terganggu karena banjir, ditambah lagi cuaca buruk dan ombak tinggi di Selat Sunda akibatkan angkutan barang tertahan 4-5 hari.
 
Tertahannya angkutan barang antar pulau dipenyeberangan Merak ini, lanjut Andre, juga menambah  biaya konsumsi sopir dan kernet sebesar Rp400.000-Rp500.000 per truk. Angka ini belum termasuk tambahan biaya solar karena truk harus dialihhkan melewati jalan arteri.
 
Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (Gapasdap) Bambang Harjo mengatakan operasional kapal ro-ro penyeberangan saat ini berjalan normal meski terkadang harus melakukan sistem buka tutup.
 
"Jika cuaca buruk yang menyebabkan gelombang tinggi di laut tempat penyeberangan, kami memutuskan untuk memberlakukan proses buka tutup, artinya kalau gelombang tinggi dan membahayakan keselamatan pelayaran, kapal tidak dijalankan, kalau sudah membaik, kapal dijalankan lagi," kata Bambang.  (ra)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rustam-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top