BANK INDONESIA : Inflasi Jateng 2013 Capai 5% plus minus 1%

News Editor | 17 Desember 2012 16:00 WIB
SEMARANG – Bank Indonesia memperkirakan angka inflasi di Jawa Tengah pada 2013 mendatang akan mencapai 5% plus minus 1%, atau lebih tinggi dibandingkan angka inflasi tahun ini sebesar 4,5% plus minus 1%.
 
 
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jateng-DIY Joni Swastanto mengatakan laju inflasi tahunan depan diperkirakan akan mengalami peningkatan dari pada 2012, yang disebabkan oleh sejumlah rencana pelaksanaan kebijakan pemerintah, terutama pada komoditas non pangan.
 
 
“Beberapa rencana pelaksanaan kebijakan pemerintah seperti kenaikan tarif dasar listrik 15%, dan kenaikan tarif cukai rokok 8,5%, diperkirakan bakal menjadi penyebab meningkatnya angka inflasi tahun depan,” tuturnya, Senin (16/12/2012).
 
 
Selain itu, lanjutnya inflasi kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (bbm). Sementara potensi tekanan imported inflation diperkirakan masih akan bersumber dari perkembangan harga emas internasional.
 
 
Dia mengatakan laju inflasi Jateng pada 2012 masih terjaga dengan baik dan berjalan sesuai dengan target inflasi sebear 4,5% plus minus 1%, meskipun diawal tahun sempat dibayangi oleh peningkatan inflasi terkait rencana kenaikan harga BBM.
 
 
“Inflasi tahunan Jateng pada November 2012 mencapai 4,21%, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 4,32%. Secara kumulatif, laju inflasi Jateng hingga November 2012 tercatat mencapai 3,82%,” ujarnya.
 
 
Menurutnya apabila berkaca dari kondisi pasokan bahan pangan tahun ini, maka potensi tekanan inflasi dari sisi komoditas pangan diperkirakan masih cukup terjaga sesuai pola historisnya. Produksi padi yang cukup baik menjadi faktor positif terjaganya pasokan bahan pangan.
 
 
“Peran Bulog Divre Jateng diharapkan dapat terus ditingkatkan sehingga dapat mendukung ketersediaan bahan pangan, terutama beras. Sementara dari sisi distribusi barang, diperkirakan tidak akan banyak terjadi gangguan yang signifikan sehingga tekanan inflasi relatif minimal,” tuturnya.
 
 
Guna menekan resiko makin meningkatnya laju inflasi tersebut, Bank Indonesia Wilayah V Semarang  telah menyiapkan mitigasi resiko inflasi melalui penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pemantau dan Pengendalian Harga (TPPH), yang telah dibentuk di sejumlah kabupaten/kota.
 
 
Joni mengatakan kendati laju inflasi Jateng tahun depan diperkirakan akan lebih tinggi, namun hal itu juga akan diikuti dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sebesar 6,0% hingga 6,5%.
 
 
“Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, mengingat upah minimum kabupaten/kota di Jateng yang rata–rata naik sebesar 9,5% akan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu pengalihan pasar ekspor ke dalam negeri juga diperkirakan bakal menjadi penopang pertumbuhan ekonomi provinsi ini ke depan,” tuturnya. (k39/dot)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Puput Ady Sukarno

Editor : Reporter 1

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup