BENCANA BANJIR: Relokasi 34.000 KK ke area aman

JAKARTA-- Bencana banjir terus menghantui Indonesia, terutama DKI Jakarta. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi banjir. Namun sampai sekarang belum berhasil secara optimal. Area titik banjir terus bermunculan dengan berbagai
Adhitya Noviardi
Adhitya Noviardi - Bisnis.com 08 Desember 2012  |  00:49 WIB

JAKARTA-- Bencana banjir terus menghantui Indonesia, terutama DKI Jakarta. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi banjir. Namun sampai sekarang belum berhasil secara optimal. Area titik banjir terus bermunculan dengan berbagai dampak yang ditimbulkannya. "Penyebab banjir di Jakarta sangat kompleks, dan itu harus dihadapi Pemprov DKI Jakarta dari waktu ke waktu," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di Jakarta, Jumat (7/12/2012).Dalam diskusi Mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) yang diadakan Masyarakat Penulis Ilmu dan Teknologi (Mapiptek), Sutopo menuturkan pemerintah sudah melaksanakan 4 pilar kebijakan penanganan banjir di DKI Jakarta. Langkah pertama, katanya, mencoba menjauhkan banjir dari masyarakat dengan cara membangun tanggul, waduk, dan kanal. Kedua, menjauhkan masyarakat dari bencana banjir, antara lain dengan relokasi 34 .000 KK dari daerah banjir ke area yang aman.Selain itu, pemerintah juga menerapkan hidup harmonis kepada masyarakat yang tinggal di area rawan banjir. "Artinya, masyarakat harus sadar akan bencana banjir yang mengancamnya, sehingga mereka bisa melakukan langkah-langkah antisipatif sendiri," ujarnya. Langkah terakhir, lanjut Sutopo yang juga Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kearifan lokal dalam penanganan banjir.Sementara itu Idwan Suhardi, Deputi Pendayagunaan Iptek Kementerian Ristek, mengatakan walau sudah menerapkan 4 pilar tersebut, banjir di Jakarta tetap belum bisa dikurangi. Sebab, persoalan banjir di Jakarta sangat kompleks. Mulai dari padatnya penduduk, banyaknya warga pendatang, sampai keberadaan 13 sungai yang hilirnya berada di Jakarta."Selama Jakarta masih menjadi epicentrum pembangunan nasional, maka beban daerah ini tidak akan pernah berkurang," ujarnya.Dia menjelaskan epicentrum yang dimaksud, adalah terpusatnya berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan, yang menyebabkan tingginya angka urbanisasi penduduk daerah ke Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rahmayulis Saleh

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top