MONUMEN GEMPA:Hanshin-Awaji, tentang Bersiap & Melanjutkan kembali

OSAKA--Bagi Nishi Yukie, apa yang terjadi pada 17 Januari 1995, saat matahari belum lagi tinggi, pukul 5.46 adalah hari yang akan memenuhi ruang ingatannya.
Feni Freycinetia Fitriani | 08 Desember 2012 01:38 WIB

OSAKA--Bagi Nishi Yukie, apa yang terjadi pada 17 Januari 1995, saat matahari belum lagi tinggi, pukul 5.46 adalah hari yang akan memenuhi ruang ingatannya.

Yukie adalah salah satu penduduk Kobe, salah satu dari 10 kota terbesar di Jepang yang diguncang gempa berkekuatan 7,2 skala richter.

"Anjing kami terus menyalak agar diperbolehkan tidur di dalam rumah sejak beberapa hari sebelum 17 Januari 1995, mungkin dia merasakan apa yang akan terjadi," ujar Yukie.

Kisah Yukie dapat Anda dengarkan di the Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial, Disaster Reduction and Human Renovation Institution, yang terletak di Kobe. Di gedung setinggi lima lantai ini, para pengunjung dapat menyaksikan bagaimana gempa itu menghancurkan infrastruktur, dari rumah, sekolah, pertokoan, dan lebih dari itu, menceraiberaikan anggota keluarga dari orang-orang terkasih. Sebanyak 6.433 orang tewas pada bencana ini.

Di lantai tiga, pengunjung bisa melihat barang-barang yang dikumpulkan pascabencana. Dari besi tempat penutup saluran air hingga beberapa koleksi personal yang dikumpulkan dari lokasi bencana.

Para korban berbagi perasaan dalam arsip audio yang dikumpulkan. Para pengunjung dapat mendengarkan kisah para korban gempa, bagaimana mereka mengatasi trauma, dan apa yang membuat para warga yang selamat bergerak untuk melanjutkan kembali hidup mereka.

Tidak hanya mengenang kejadian yang memilukan ini, gedung peringatan juga menyediakan informasi mengenai bagaimana mengantisipasi bencana. Di lantai dua ini, para pengunjung dapat melihat barang apa saja yang masuk dalam kategori wajib untuk disiapkan yang akan sangat berguna jika bencana terjadi.

Daftar cek yang disediakan dan dapat dibawa pulang oleh pengunjung memuat berbagai barang, seperti barang dasar, mulai dari air minum, peluit, tali, pisau multifungsi, dan obat-obatan.

Terletak di jalur rangkaian gunung berapi di Asia Pasifik menempatkan Jepang sebagai negara yang paling sering diguncang gempa. Hari ini misalnya gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang sejumlah wilayah, termasuk Tokyo.

Ketersediaan informasi yang cukup mengenai apa yang mesti disiapkan dan bagaimana menjalankan rekonstruksi pascagempa menjadi salah satu keharusan. Penyebaran pengetahuan seperti yang tersedia di gedung peringatan ini akan sangat berguna bagi siapa saja yang menyambanginya.

Hasegawa Aoi, siswa sekolah menengah pertama di Kobe, yang datang ke gedung peringatan ini mengatakan dia mempelajari banyak hal dan membekali dirinya dalam menghadapi bencana.

"Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pentingnya mengulurkan tangan bagi sesama. orang-orang bahu membahu untuk menolong para korban dan menyediakan kebutuhan yang mereka perlukan. Buat saya, ini sangat menyentuh," ujar Aoi.

Kehadiran gedung ini mengingatkan kita bahwa hidup adalah melanjutkan kembali langkah bagi para korban yang selamat dan pada saat yang bersamaan, tetap menyimpan ingatan tentang mereka yang pergi.(msb)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ratna Ariyanti

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup