RUSUH 5 TEWAS: Lokasi penambangan emas Gunung Botak ditutup

News Editor | 06 Desember 2012 11:15 WIB
AMBON - Lokasi penambangan emas di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, ditutup sejak 5 Desember 2012, menyusul pertikaian menewaskan lima orang dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
 
Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Johanis Huwae, dikonfirmasi, Kamis, membenarkan ditutupnya lokasi penambangan emas kawasan Gunung Botak hingga adanya pengaturan sesuai mekanisme yang tidak memungkinkan timbulnya masalah.
 
"Benar telah ditutup Wagub Maluku, Said Assagaff, Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Kapolda Maluku, Brigjen Pol. Muktiono dan Bupati Buru, Ramly Umasugi pada Rabu (5/12)," ujar AKBP Johanis Huwae.
 
Penutupan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi keamanan di Buru, termasuk Maluku secara umum berkaitan dengan puluhan ribu penambang asal luar daerah ini serta masalah pemanfaatan merkuri yang telah mengancam kelestarian lingkungan di daerah itu.
 
"Jadi berdasarkan kesepakatan pemerintah, baik Maluku maupun Buru serta Pangdam dan Kapolda, maka lokasi penambangan ditutup untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dengan perlunya pengaturan lebih lanjut, termasuk menata lingkungan akibat pemanfaatan merkuri," tandasnya.
 
Disinggung penambang, AKBP Johanis Huwae menjelaskan, telah memanfaatkan KM Lambelu ke Ambon, (Rabu, 5/12), kapal cepat Elisabet dan Kapal Motor Penyeberangan (KPM) dari Namlea, ibu kota Kabupaten Buru.
 
"Penambang dari luar Maluku harus kembali ke daerah masing - masing, karena lokasi penambangan telah ditempatkan personil polisi didukung TNI-AD," tegasnya.
 
Kapendam XVI/Pattimura, Kolonel Infantri Kus Haryono, mengatakan, sebanyak dua satuan setingkat kompi (SSK) dikerahkan ke Gunung Botak.
 
Dua SSK personil Yonif 733 BS/Masariku itu diberangkatkan dengan memanfaatkan jasa KM Siwalima milik Pemprov Maluku dan Kapal Motor Penyeberangan (KMP), Selasa (4/12) malam.
 
"Kami diminta Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu untuk mendukung pengamanan yang dilakukan Polisi dengan tujuan menjaga stabilitas keamanan semakin kondusif di daerah ini," ujarnya.
 
Karena itu, dia mengimbau masyarakat di Kabupaten Buru agar tidak terprovokasi isu-isu menyesatkan maupun tersulut emosi sehingga terjadi pertikaian yang akhirnya hanya meninggalkan penderitaan berkepanjangan bagi warga di Maluku.
 
"Khan Gunung Botak itu merupakan lahan hidup puluhan ribu orang dari berbagai daerah di tanah air untuk mendulang logam mulia, sehingga keamanan harus dipelihara agar aktivitasnya tidak terganggu," tandas Kapendam.
 
Sebelumnya anggota DPRD Maluku asal daerah pemilihan Kabupaten Buru dan Buru Selatan, Moerniyati Hentihu mengaku, masyarakat resah dengan kondisi keamanan di Pulau Buru saat ini yang rentang akibat tingginya angka kriminalitas.
 
"Keluarga saya di Namela, Ibu Kota Kabupaten Buru merasa resah dan tidak nyaman karena adanya upaya pembunuhan dan perampokan terhadap salah satu tetangga kami di sana," katanya.
 
Hal senada juga diungkapkan anggota legislatif lainnya, Lutfi Sanaky yang mengatakan, akibat temuan potensi logam mulia di Pulau Buru, kehidupan masyarakat lokal termasuk pihak keluarganya tidak tenang.
 
"Tingkat inflasi di daerah itu jadi tidak terkendali dan harga-harga barang terus melambung dan berdampak pada penjualan tiket pesawat dari Jakarta dan Surabaya menuju Ambon yang mencapai kisaran Rp3 juta," katanya.(faa)
 
 
 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup