PERGURUAN TINGGI Sumsel hanya serap 13% lulusan SLTA

 
News Editor | 30 April 2012 19:23 WIB

 

PALEMBANG: Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Sumsel  Sirozi menilai angka partisipasi kasar (APK) Pendidikan Tinggi di Sumsel  pada 2012 masih rendah hanya 13% dari pendidikan tinggi nasional mencapai 20%.
 
Padahal idealnya APK pendidikan tinggi  Sumsel harus  di atas APK pendidikan tinggi nasional atau setidaknya menyamai. 
 
Penyebabnya, kata dia  masih rendahnya APK tersebut karena daya tampung dari perguruan tinggi masih kurang.
 
"Contohnya setiap tahun lulusan dari SMA di Sumsel mencapau  85.000  sedangkan Unsri hanya bisa menampung 6.000- 7.000 siswa," jelasnya usai melakukan Roundtable Discussion bersama Para Rektor dan Tokoh Pendidikan Sumsel di ruang rapat bina praja hari ini.
 
Sementara jelasnya  IAIN hanya bisa menampung 2.000 siswa  dan swasta hanya bisa menampung 5.000 siswa.  
 
Penyebab lain,ungkap dia faktor ekonomi dan faktor budaya yang terjadi di masyarakat juga sangat berpengaruh.
 
Sirozi mengatakan, untuk menyelesaikan permasalahan APK pendidikan tinggi ini dapat dilakukan dengan memperbanyak beasiswa dan menambah program studi.
 
“Hal itu bisa dilakukan untuk meningkatkan APK  pendidikan tinggi di sumsel," urainya.
 
Namun hal itu juga,lanjut dia  harus diimbangi dengan SDM  dan sarana pendukung yang memadai sehingga tidak hanya jumlah APK  pendidikan tinggi yang tercapai tetapi juga diiringi dengan memiliki mutu yang berkualitas.
  
Dia menambahkan untuk target APK pendidikan tinggi pada 2015, pihaknya menargetkan sama dengan APK  pendidikan tinggi nasional yaitu 30%. 
 
“Idealnya memang  Sumsel jangan dibawah nasional karena  merupakan daerah besar,” ungkap Sirozi.
 
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Ade Karyana mengatakan, untuk meningkatkan APK pendidikan tinggi di Provinsi Sumsel ini para pimpinan perguruan tinggi harus melakukan upaya yang konkret seperti menyiapkan daya tampung untuk menerima para calon mahasiswa.
 
Selain itu lanjut dia  menyiapkan sarana dan prasana yang memadai.
 
Dia menambahkan harus  menyiapkan daya pendukung yang lainnya. Seperti  SDM, yakni dosen atau tenaga pengajar. 
 
Yang terpenting paparnya harus memiliki komitmen yang tinggi untuk bisa menyiapkan pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi masing-masing.(sut)

Sumber : Irwan Wahyudi

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top