PROPERTIPengembang Jatim minta perpanjangan FLPP

 
Wike Dita Herlinda | 25 April 2012 16:28 WIB

 

SURABAYA: Pengembang di Jawa Timur mendesak PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk untuk memperpanjang komitmennya dalam memfasilitasi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 2011 yang saat ini belum terserap pasar.
 
Padahal pasokan properti yang dibangun pengembang dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 2011 itu masih banyak. Sementara itu unit perumahan tersebut tidak memungkinkan untuk dikonversikan ke dalam skema FLPP 2012.
 
Wakil Ketua REI Jatim Nur Wahid mengatakan dalam skema yang lama,  harga rumah  tidak dipatok seperti FLPP tahun ini sebesar Rp70 juta per unit.
 
"Padahal sebagian besar pengembang sudah terlanjur membangun dalam jumlah yang banyak dan sudah dipasarkan dengan harga di atas Rp100 juta mengingat biaya pembebasan lahan di perkotaan sudah mahal,” ujar  kepada Bisnis.
 
Itu sebabnya, lanjut dia,  REI minta bank khususnya BTN untuk melanjutkan fasilitasi KPR skema FLPP 2011 tersebut. Di Jatim ada lebih dari 4.000 unit rumah yang sudah terlanjur terbangun dengan skema bersangkutan. “Sejauh ini hanya BTN yang masih komitmen melanjutkan program tersebut,” ungkap Nur.
 
Purnomo Kakanwil BTN Wilayah II membenarkan selama ini BTN membantu pengembang untuk melanjutkan fasilitas KPR yang tidak dapat memenuhi persyaratan FLPP 2012. Akan tetapi program itu akan habis pada 29 Juni 2012. “Dalam program khusus ini kami mematok bunga KPR sebesar 8,5% fixed dua tahun,” ujarnya.
 
Harga jual unit rumahnya bebas, namun KPR yang bisa diberikan bank hanya sebesar Rp80 juta. Program tersebut diberikan kepada konsumen yang memiliki penghasilan pokok Rp2 juta ke bawah dan seluruh sumber dananya dari  BTN.
 
Namun menurut Purnomo yang mengherankan hampir 99% dari realisasi KPR program FLPP 2011 di wilayah kerjanya yakni Jateng, Jatim, Bali, NTB dan NTT dilakukan BTN. Padahal banyak bank lain yang ikut menandatangani kerja sama tersebut dengan Kemenpera.
 
Purnomo mengatakan penyaluran kredit konsumsi khususnya properti baik yang komersial maupun program dari pemerintah sebenarnya menguntungkan bagi bank. Meskipun persaingannya relatif keras tetapi kredit tersebut tergolong aman karena nilai jaminannya jelas.
 
Data di Kantor Bank Indonesia (KBI) Jatim per Februari 2012 total outstanding KPR perbankan di Jatim mencapai Rp18.5 triliun naik 38,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total realisasi kredit tersebut 44% di antaranya merupakan KPR untuk tipe 70 ke atas. Sementara itu KPR tipe 70 ke bawah hanya 34%. Sisanya untuk pembelian ruko dan apartemen. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top