INVESTASI ASING: Kuartal I, Penanaman modal di Jawa Barat turun

BANDUNG: Investasi dari penanaman modal asing (PMA) di Jawa Barat menurun pada kuartal I/2012 karena investor asing dinilai masih menunggu situasi perkembangan makro di provinsi itu.Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jawa Barat
News Editor | 25 April 2012 15:16 WIB

BANDUNG: Investasi dari penanaman modal asing (PMA) di Jawa Barat menurun pada kuartal I/2012 karena investor asing dinilai masih menunggu situasi perkembangan makro di provinsi itu.Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jawa Barat melaporkan realisasi investasi PMA kuartal I/2012 turun 13,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data badan itu menunjukkan nilai investasi yang terealisasi dari PMA Rp14,35 triliun sementara pada kuartal I tahun lalu sebesar Rp16,54 triliun.Kepala BKPPMD Jabar Agus Gustiar mengatakan penurunan ini sebetulnya tidak terlalu jauh. Pihaknya pun menganggap hal ini merupakan siklus tahunan di mana investor asing cenderung menunggu perkembangan investasi dalam negeri.“Penurunan ini sudah seperti siklus tahunan. Pada kuartal I, biasanya investor sedang melihat situasi perkembangan investasi di sini,” katanya kepada Bisnis hari ini.Dia menambahkan, kondisi PMA di Jabar pada kuartal ini masih juga terpengaruh oleh kondisi luar negeri dimana masih berlangsungnya krisis Eropa.BKPPMD Jabar optimistis pada kuartal berikutnya PMA akan meningkat signifikan. Hal itu ditunjukkan pula oleh perkembangan minat investasi pada kuartal I/2012.“Kecenderungan investasi akan meningkat pada kuartal selanjutnya terlihat dari minat yang cukup tinggi pada kuartal ini. Bahkan, minat investasi ini meningkat 4,79% dari tahun 2011,” paparnya.Meski PMA di Jabar menurun, hal sebaliknya terjadi pada penanaman modal negeri (PMDN). Kegiatan investasi dari investor lokal ini melonjak signifikan, yaitu sebesar Rp2,6 triliun atau 126,56%  dari kuartal I/2011.Realisasi investasi PMDN Jabar pada kuartal I/2011 hanya Rp2,1 triliun. Jumlah ini kemudian meningkat jadi Rp4,8 triliun pada triwulan I/2012.Agus mengatakan peningkatan ini terjadi karena investor lokal berbeda dengan investor asing dalam membaca kondisi dalam negeri.“Investor lokal lebih tahu kondisi dalam negeri, misalnya saat gejolak BBM. Para investor lokal saat itu lebih menunjukkan kesiapan mereka dibanding investor asing,” katanya.Jawa Barat menargetkan realisasi investasi pada tahun 2012 sebesar Rp43,27 triliun. Pencapaian realisasi pada kuartal I/2012 ini sudah 44% dari target berdasarkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tersebut.Dia menambahkan kelompok industri logam, mesin, dan elektronik masih jadi penyumbang utama realisasi investasi di Jabar. Pada periode ini kelompok industri itu berkontribusi sebesar Rp7,8 triliun.Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Dedy Wijaya mengatakan penurunan PMA di Jabar bukan karena kesalahan dari Indonesia, akan tetapi lebih dari buruknya iklim ekonomi di luar negeri.“Perekonomian global masih belum bagus, contohnya Uni Eropa dan Amerika yang masih berjuang untuk memulihkan perekonomiannya, kemudian Timur Tengah yang masih ribut terus, dan juga dari Asia Tenggara ada Cina dan Filipina yang sedang rebut. Investor jadi lebih hati-hari,” jelasnya.Menurutnya, pemerintah harus berperan lebih dalam meningkatkan pertumbuhan investasi ini dengan memberikan fasilitas dan infrastruktur yang memadai sehingga mampu menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya.“Daya beli Indonesia tinggi, pastinya banyak yang mau investasi, apalagi jika ditambah dengan pemerintah yang memberikan kemudahan fasilitas, lebih banyak lagi investor yang berminat,” ujarnya.Dedi memaparkan pemerintah bisa mendorong peremajaan atau revitalisasi pabrik-pabrik tua di Jabar. Pasalnya, masih banyak pabrik tua yang memang memerlukan perhatian dari pemerintah.Peremajaan mesin pabrik ini merupakan salah satu upaya untuk menambah daya saing dengan produk saingan terutama produk impor.Apindo Jabar juga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan fasilitas baik subsidi hingga keringanan pajak untuk pengusaha yang ingin mendirikan pabrik yang menghasilkan mesin-mesin industri.“Hingga saat ini kita masih membeli mesin pabrik impor, akan lebih baik jika mesin pabrik bisa kita produksi sendiri, sehingga harganya pun bisa lebih murah,” katanya. (faa)

Sumber : Dinda Wulandari & Ringkang Gumiwang

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top