Ada potensi konflik besar di LAUT CHINA SELATAN

JAKARTA: International Crisis Group (ICG) dalam masa mendatang masih melihat adanya kemungkinan munculnya konflik yang terbuka lebar di Laut China Selatan melibatkan China, Amerika Serikat, Filipina dan Vietnam dalam skala kecil, menengah hingga besar.    
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 April 2012  |  00:16 WIB

JAKARTA: International Crisis Group (ICG) dalam masa mendatang masih melihat adanya kemungkinan munculnya konflik yang terbuka lebar di Laut China Selatan melibatkan China, Amerika Serikat, Filipina dan Vietnam dalam skala kecil, menengah hingga besar.    

 

Meski demikian seperti dikutip dari ABC.net.au, ICG melihat pemerintah China secara aktif berusaha untuk meredakan ketegangan dengan tetangganya meski demikian sejumlah konflik masih kerap terjadi akibat aktor-aktor lapangan yang tidak mampu mengendalikan diri menggunakan jalan kekerasan.

 

Tahun lalu sebuah kapal nelayan China menabrak kabel eksplorasi kapal Vietnam. Sementara pekan lalu kapal-kapal China bersenjata menghentikan angkatan laut Filipina yang menahan nelayan China karena tudingan perburuan liar di perairan yang diperebutkan.

 

Beruntung, menurut Direktur proyek Asia Timur ICG Stephanie Kleine-Ahlbrandt, China dan negara lainnya sejauh ini telah menahan mereka dari angkatan laut terlibat dalam insiden ini. "Meski demikian, kami khawatir konflik bisa muncul akibat tindakan penegak hukum dan paramiliter."

 

Laut China Selatan menjadi sengketa China, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei karena adanya perkiraan cadangan minyak dan gas di Kepulauan Spratly yang besar. Analisis Clive Schofield dan Ian Storey di asiaquarterly .com menyebut 1-2 miliar barrel minyak dan 225 tcf (triliun cubic feet) gas alam.

 

Sementara estimasi lembaga statistik Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) menyatakan di bawah Spratly terdapat sedikitnya 7 miliar barrel minyak dan 150,3 tcf (triliun cubic feet) gas alam. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Algooth Putranto

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top