PASAR PROPERTI: Sektor kondominium Jakarta belum bubble

JAKARTA: Sektor kondominium di Jakarta dinilai masih aman dari terjadinya bubble (menggelembung) karena sebagian besar konsumen yang membeli menggunakan dana internalnya sendiri, bukan pinjaman perbankan.Director and Corporate Secretary PT Ciputra Property
Deriz Syarief | 25 April 2012 14:47 WIB

JAKARTA: Sektor kondominium di Jakarta dinilai masih aman dari terjadinya bubble (menggelembung) karena sebagian besar konsumen yang membeli menggunakan dana internalnya sendiri, bukan pinjaman perbankan.Director and Corporate Secretary PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengakui adanya kenaikan harga kondominium di tengah kota Jakarta mencapai 40%-50% pada tahun lalu seolah memberikan kesimpulan terjadinya bubble properti, tetapi kondominium di Jakarta masih dalam tahapan aman karena sektor tersebut tidak banyak didanai perbankan."Tahun lalu kenaikan harga kondominium di tengah kota Jakarta memang ekstrim mencapai 40%-50% dibandingkan tahun sebelumnya, kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di kondominium, tetapi juga pada landed house [rumah tapak] di pinggiran Jakarta. Kenaikan harga ini yang menyimpulkan seolah timbul penggelembungan. Namun sebenarnya masih aman, sebagian besar pembeli menggunakan dananya sendiri," kata Artadinata, kemarin.Dia menjelaskan memang cukup banyak investor yang membeli kondominium di Jakarta, tidak mereka tempati sendiri melainkan untuk disewakan atau mendapatkan capital gain. Namun berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat yang pembelinya meminjam dana bank hingga 90% dari harga kondominium."Suatu pasar yang menggelembung dan menggunakan dana pinjaman perbankan itu yang berbahaya. Sekarang mereka menggunakan dana sendiri yang kami kira berasal dari perpindahan pasar modal atau perpindahan dari bank konvensional lainnya karena deposito sekarang hanya 5,5% sehingga mereka lebih memilih mengalirkan dananya ke sektor properti," imbuhnya.Terkait dengan banyaknya pasokan kondominium baru yang masuk ke pasar pada tahun ini dan tahun lalu, dia menuturkan hal tersebut sejalan dengan adanya perubahan pola hidup masyarakat yang sebelumnya tinggal di landed house bergeser ke hunian vertikal di tengah kota."Bisa karena mereka terpaksa akhirnya memilih tinggal di tengah kota karena macetnya lalu lintas, rumah tapak di pinggiran Jakartapun sudah mahal. Di Serpong misalnya harga tanahnya sudah Rp7 juta/m2. Kami melihatnya ada pola pergeseran gaya hidup, sehingga memang ada permintaan, tidak bisa dikatakan over supply sekarang," paparnya.  Andre Rizki Makalam, Chief Marketing Officer Bakrie Swasakti, mengatakan sektor kondominium bisa bubble pada pengembang yang membangun kondominium tanpa adanya fasilitas di sekitar proyek tersebut.“Kondominum memang dapat bubble apabila pengembang membangun kondominium dan tidak ada fasilitas di proyek tersebut. Hanya bangun kondominium kemudian ditinggalkan, tidak ada seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, atau hotel yang dia bangun. Kondominium di sekeliling Jakartalah yang cenderung bubble,” kata Andre, kemarin.Dia menjelaskan 50%-60% yang tinggal di kondominium kawasan superblok Rasuna Epicentrum merupakan ekspatriat, artinya pembeli kondominium merupakan investor yang kemudian disewakan kembali.“Memang kondominium di tengah kota banyak yang dibeli oleh investor, tetapi permintaan sewa juga banyak dan mereka membeli tidak menggunakan pinjaman bank sehingga tetap aman dari terjadinya bubble,” imbuhnya. (faa)

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top