INVESTOR ARAB Incar Air bersih & ecotourism

 
Matroji | 23 April 2012 18:51 WIB

 

DENPASAR: Pemerintah Indonesia menjajaki kerjasama bidang infrastruktur dengan pengusaha asal Arab Saudi untuk ikut mengerjakan sejumlah proyek yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam.
 
Rizal Affandi Lukman, Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan penjajakan ini dibicarakan di tingkat pemerintah Indonesia dengan pengusaha Arab Saudi yang tergabung dalam Council of Saudi Chamber.
 
“Saat ini penjajakan penanaman investasi sedang dibicarakan dengan sejumlah pengusaha, terutama untuk mengerjakan proyek investasi untuk mendukung MP3EI, di antaranya pengelolaan sumber daya alam,” katanya saat menghadiri Business Meeting dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kamar Dagang dan Industri di Kuta Kabupaten Badung  hari ini.  
 
Investor asal Arab Saudi, lanjutnya, sangat tertarik dengan pengelolaan air bersih dan pengerjaan properti di bidang ecotourism. Ketertarikan warga arab tentang ecotourism akan diakomodasi oleh pengusaha dengan metode business to business dengan pengusaha asal Indonesia. Adapun lokasinya, akan ditujukan ke sejumlah potensi wisata kawasan Bali.
 
Secara nasional, wisatawan dengan kewarganegaraan Saudi Arabia menempati urutan kelima dengan 9.644 kunjungan. Angka itu mengalahkan Korea Selatan dengan 9.185 kunjungan, Australia 7.290 kunjungan, Taiwan 6.339 kunjungan, AS 5.944 kunjungan dan India 4.953 kunjungan. 
 
Untuk pengelolaan air bersih, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali membuka peluang untuk pengembangan sistem air bersih sungai Ayung yang mengalir di tengah pulau Bali dengan konsep sinergi investasi swasta dengan pemerintah daerah dan pusat.
 
Ketua Umum Kadin Bali Gde Sumarjaya Linggih mengatakan upaya ini untuk menginisiasi pemerintah untuk mengembangkan sistem air bersih yang sudah sangat sulit dipenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum setempat. “Sungai Ayung memiliki potensi 1.800 liter per detik.”
 
Selain mengurangi penggunaan air sumur, pemanfaatan air sungai Ayung juga mampu mengendalikan air sungai yang biasa meluap saat musim hujan. "Pemanfaatan air sungai itu, juga termasuk pembangkitan listrik yang berpotensi mengalirkan sebanyak 10 Megawatt," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Konstruksi dan Konsultasi, Ida Bagus Nyoman Sudewa.
 
Secara teknis, lanjut Sudewa, Kadin mengusulkan pembangunan waduk di bagian tengah aliran untuk menampung dan mengelola debit air yang dihasilkan dari sejumah sumber sungai Ayung. Selanjutnya di kolam waduk diproyeksikan ada instalasi pengolahan air minum/ Water Treatment Plan untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah kabupaten/kota di Bali.
 
Sebelumnya, Pemerintah Bali melalui Badan Penanaman Modal dan Perizinan menawarkan sejumlah proyek infrastruktur pengelolaan air bersih di empat kabupaten/kota dengan estimasi biaya total sebesar Rp1,305 triliun.
 
Keempat penawaran pengembangan proyek itu belokasi di Metaum Kabupaten Tabanan, Tukad Unda Kabupaten Klungkung, Waribang Kota Denpasar dan Dam Ayung Kabupaten Badung. Suplai air bersih dari empat pengembang ini terintegrasi dalam satu pengelolaan air bernama Sarbagitaku.
 
Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Langganan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Denpasar Ida Bagus Ngurah Wardana mengatakan kebutuhan air minum di sejumlah Kabupaten/Kota di Bali sudah meninggi. Berdasarkan hasil studi JICA dan masterplan Sarbagitaku, kebutuhan di Bali selatan saja sudah 76% dari total konsumsi air di Bali. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top