NADRAN, Tradisi tahunan masyarakat Pantura Jabar

 
News Editor | 22 April 2012 12:45 WIB

 

BANDUNG : Pesta laut atau biasa disebut Nadran, menjadi sebuah tradisi untuk mengekspresikan rasa syukur masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur pantura 
 
Tradisi tahunan yang juga sering dilaksanakan oleh masyarakat pesisir di daerah Indramayu, dan Subang ini merupakan salah satu budaya lokal yang sudah lama diwariskan oleh para leluhur.
 
Purwadi, seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Samadikun, Pelabuhan Cirebon, menuturkan prosesi Nadran atau sedekah laut diawali dengan pemotongan kepala kerbau dan nasi tumpeng. Keduanya dibungkus dengan kain putih kemudian dilarung ke tengah laut lepas dan ditenggelamkan bersama seperangkat sesajen lainnya. 
 
“Tradisi Nadran menjadi acara yang paling ditunggu masyarakat pesisir.Pembagian nasi tumpeng dan lauk pauk [bancaan] dianggap nasi berkah karena sudah diberi doa-doa dan bacaan mantra,”katanya saat dihubungi Bisnis hari ini. 
 
Pada perayaan Nadran, selalu dibarengi dengan pagelaran wayang kulit, aneka tarian, pembacaan doa-doa, mantra, dan penyajian sesajen. 
 
Purwadi menambahkan tradisi Nadran biasanya digelar di tiap desa yang terletak di sepanjang pantai utara Jawa Barat. 
 
“Ketentuan waktu pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan masyarakat desa setempat. Namun yang pasti perayaan Nadran ini menjadi sebuah perekat persaudaraan masyarakat pesisir yang cendrung berwatak dan berkarakter keras,”ujarnya. 
 
Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Mahfud Syaid mengungkapkan tradisi Nadran memiliki nilai filosofis sekaligus religius. Hal itu tertuang dari ekspresi upacara yang disajikan dalam bentuk ritual doa-doa, tarian, dan nyanyian. 
 
Tradisi tahunan yang sudah cukup lama dilaksanakan masyarakat pesisir Pantura ini, membuat prosesi perayaan pesta laut ini menjadi sakral "Ini menguatkan persudaraan masyarakat pesisir yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan,” tutur Mahfud. 
 
Agar nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Nadran tetap terjaga, menurut Mahfud, masyarakat di sepanjang Pantura harus tetap mengerti bahwa tradisi itu bukan hanya sebagai pawai budaya rutin semata. Ritual itu memiliki ruh dan berbagai pesan moral khususnya dalam ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah dari hasil laut yang dijadikan sumber mata pencaharian mereka sehari-hari. 
 
Tradisi Nadran saat ini dinilai hanya dijadikan ajang hiburan semata, karena masyarakat tidak mengerti hakikat perayaan itu sebagai ungkapan rasa syukur. "Seharusnya  hal-hal kurang baik yang keluar dari nilai religius tidak boleh disertakan pada peringatan ini,” kata dosen yang dikenal dengan sebutan Ustadz Syaid itu. (sut)
 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Maman Abdurahman
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top