EKONOMI DAERAH: Jabar pacu diversifikasi pangan

BANDUNG: Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menggenjot potensi komoditas tanaman palawija berupa ubi jalar dan ubi kayu untuk diversifikasi pangan dan perbaikan kesejahteraan petani.Kepala Bidang Produksi Pangan Dinas Pertanian Jabar, Unief Primadi,
News Editor | 20 April 2012 15:05 WIB

BANDUNG: Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menggenjot potensi komoditas tanaman palawija berupa ubi jalar dan ubi kayu untuk diversifikasi pangan dan perbaikan kesejahteraan petani.Kepala Bidang Produksi Pangan Dinas Pertanian Jabar, Unief Primadi, mengatakan selama ini komoditas itu kurang mendapat sentuhan dari pemerintah.“Selama ini kami fokus pada padi,jagung, dan kedelai. Tetapi, ternyata untuk mengurangi konsumsi beras diversifikasi melalui kedua komoditas itu sangat potensial,” katanya, Jumat 20 April 2012Dia memaparkan pihaknya menargetkan produksi ubi kayu sebanyak 2,1 juta ton dan ubi jalar 486.019 ton pada tahun ini. Hasil itu dapat dicapai dari luasan panen  kedua komoditas itu masing-masing seluas 108.634 hektare dan 33.785 ha.“Sampai Februari 2012, produksi ubi kayu sudah 156.961 ton dan ubi jalar 53.337 ton. Kami optimistis target tahun ini bisa tercapai,” ujarnya.Unief mengatakan pengembangan kedua komoditas ini juga sudah mulai dilirik pemerintah pusat, beberapa waktu lalu Kementerian Pertanian sudah mengunjungi Dem Area untuk tanaman itu yang tersebar di 11 kabupaten/kota.Dia menjelaskan Dem Area yang dibangun bersama pemerintah pusat itu mencapai 2.112 ha dimana ubi jalur mendominasi luasan 1.500 ha.“Mayoritas berada di Kab.Bogor, Garut, dan Kuningan, dan Tasikmalaya” tambahnya.Pihaknya mengklaim penurunan konsumsi beras yang terjadi pada tahun ini berkat upaya diversifikasi pangan. Saat ini konsumsi beras per kapita di Jabar sudah 94,33 kg per tahun.Jumlah ini terus menurun ketika pada 2009 lalu BPS Jabar mengumumkan tingkat konsumsi beras sebagai makanan pokok rerata 105,87 kg per kapita per tahun.“Untuk tahun ini belum kami survei lagi. Tapi harapan kami tingkat konsumsinya bisa lebih turun minimal setara dengan Thailand yang konsumsinya 85 kg per kapita per tahun,” ujarnya. (ra)

 

>BACA JUGA

 

-Nasabah diminta laporkan penipuan ke bank 

Sumber : dinda wulandari, tisyrin naufalty

Tag :
Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top