BULOG JABAR serap 158.000 ton beras

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 April 2012  |  20:57 WIB

 

BANDUNG:  Divre (Divisi Regional) Jawa Barat Perum Bulog sudah menyerap 158.000 ton beras hasil panen pada musim panen pertama tahun ini.
 
Kepala Divre Jabar Perum Bulog  Usep Karyana mengatakan serapan ini menunjukkan pihaknya sudah memenuhi lebih dari 50% target. Penyerapan ini juga setara beras yang terserap dari seluruh wilayah Jabar.
 
“Sampai April ini kami menargetkan dapat menyerap 300.000 ton beras, sekarang sudah melebihi 50%. Kami optimistis dapat terpenuhi targetnya,” katanya kepada Bisnis hari ini.
 
Dia mengatakan setiap harinya Bulog Jabar menyerap 4.500-5.000 ton beras selama panen berlangsung ini.
 
Penyerapannya sendiri, tambahnya, merata dari sentra-sentra padi di provinsi itu a.l Karawang, Cianjur, Subang, Indramayu, Cirebon, dan Bogor.
 
Dia menambahkan pemberlakuan HPP beras baru juga berpengaruh terhadap penyerapan beras dari petani. Terhitung sejak akhir Februari lalu, Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Be ras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah mulai berlaku efektif. 
 
Dalam inpres itu disebutkan HPP gabah kering panen (GKP) Rp 3.300 per kg di petani atau Rp 3.350 per kg di penggilingan. HPP gabah kering giling (GKG) Rp 4.150 per kg di penggilingan atau Rp 4.200 per kg di Gudang Perum Bulog. Sementara HPP beras Rp 6.600 per kg di Gudang Perum Bulog.
 
Dengan HPP baru itu, lanjutnya, stabilisasi harga beras dan gabah juga relatif terjaga. Berbeda halnya saat memakai HPP lama dimana petani cenderung menjual berasnya ke pengumpul.
 
Usep mengatakan pihaknya juga menambah personel satgas Bulog untuk menyerap beras di sentra-sentra produksi padi.
 
“Kami menggunakan sistem jemput bola, personel disebar ke daerah-daerah itu untuk menyerap beras petani,” katanya.
 
Pada tahun ini Perum Bulog Jabar menargetkan penyerapan sebanyak 650.000 ton beras.
 
Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indramayu Sutatang mengatakan  menjelang akhir masa panen,  mayoritas gabah dan beras yang berasal dari sentra produksi Jabar sudah beralih ke pasar umum. 
 
Sutatang mengatakan harga pasar yang dinilai lebih baik dibanding Bulog menjadi alasan mengapa petani cenderung menyalurkan ke tempat lain.
 
“Untuk penggilingan kecil mungkin akan menjual ke Bulog, tapi kalau penggilingan besar yang sudah punya link ke jakarta misalnya, akan menjual ke Jakarta karena harganya lebih bagus,” katanya.
 
Saat ini, lanjutnya, harga GKP di tingkat petani Indramayu berkisar Rp 3.500 per kg - Rp 3.600 per kg, GKG Rp 4.400 - Rp 4.500 per kg. Kisaran harga tersebut bervariasi, tergantung kualitas dan kapasitas jual yang dimiliki petani. 
“Namun secara umum, angka GKP dan GKG masih berada di atas HPP,” lanjut Sutatang.
 
Dia mengatakan puncak panen di Indramayu berlangsung pada bulan ini. Hingga saat ini, panen diperkirakan sudah mencapai 85%. 
 
“Yang belum dipanen mungkin hanya sekitar 15 sampai 20 persen lagi. Sisa panen ada di sejumlah kecamatan yang masa panennya bergeser akibat kemunduran saat masa tanam,” ujarnya.
 
Menurutnya, sentra produksi beras Indramayu ditargetkan dapat berkontribusi 130.000 ton beras kepada Bulog Jabar sepanjang 2012.
 
Namun, lanjutnya, hingga masa panen awal tahun akan selesai, serapan beras Bulog cenderung masih sedikit. “Kalau angka riil saya belum bisa menyebutkan, tapi pemantauan gudang Bulog masih kosong,” katanya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Dinda Wulandari

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top