PROYEK TEGALLUAR baru terealisasikan 10%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 April 2012  |  20:12 WIB

 

BANDUNG : Proses pembangunan proyek pengembangan Kota Baru Tegalluar (KBT)  hingga kuartal II tahun 2012 ini baru terealisasi 10 % untuk pembangunan sektor industri. 
 
Proyek KBT yang ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Bandung di atas lahan seluar 3.600 hektar senilai  Rp 2,1 triliun merupakan pengembangan kawasan tarpadu untuk kawasan industri, pusat perdagangan, area wisata dan apartemen,
 
Pemkab Bandung dalam merampungkan rencana proyek KBT rencananya akan menggandeng investor swasta dengan berbagai bentuk kerjasama, salah satunya dengan sistem kemitraan pemerintah swasta. 
 
Kasubid Penggalian Potensi Kantor Penanaman Modal Kabupaten Bandung Yoharman Syamsu mengatakan rencana pembangunan KBT merupakan satu paket terpadu dengan rencana pembuatan penampungan air seluas 490 hektar untuk mengubah wiliayah di 4 kecamatan yang sudah kurang produktif jika digunakan untuk sektor primer seperti pengembangan pertanian, karena sirkulasi air tidak sempurna.
 
“Agar daerah di 4 kecamatan tersebut jadi produktif, maka harus diubah menjadi sebuah wilayah yang menjadi pusat perindustrian, perdagangan, dan area wisata buatan,” katanya pada Bisnis.
 
Kajian untuk pembangunan KBT sudah dilakukan sejak beberapa tahun silam. Yoharman menuturkan mulai dari proses studi banding ke beberapa daerah termasuk ke luar negeri, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), hingga dibuatkan Peraturan Bupati (Perbup) No. 3 Tahun 1993 Petunjuk Operasional Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027. 
 
“Skema perencanaan yang dilakukan pemerintah untuk pemanfaatkan wilayah agar lebih produktif adalah dengan membangun kawasan industri. Kalau kawasan industri sudah terbangun, maka akan membutuhkan perumahan (housing), meningkat pada sektor jasa, perdagangan, dan pariwisata. Dan apa yang telah dirancang untuk pemanfaatan lahan sudah diperhitungkan berdasarkan peruntukannya,” tutur Yoharman. 
 
Lokasi strategis
 
Kepala Bidang Promosi dan Penggalian Potensi Penanaman Modal BPMP Kabupaten Bandung Dedi Ruswandi menambahkan lokasi rencana pembangunan KBT sangat strategis karena berdekatan dengan Terminal Peti Kemas Gedebage, jalan Tol Purbaleunyi dan hanya berjarak 5 km dengan Kota Bandung. 
 
“Kalau sudah teralisasi sudah tentu akan memiliki nilai kompetitif dengan kawasan serupa seperti kawasan industri yang ada di Jabobeka. Revenue yang akan didapat pihak pengembang dan pengelola sudah tentu dari penjualan kavling lahan industri,”ujarnya.
 
Dedi memaparkan untuk ilustrasi pola pembangunan parsial dalam penyediaan lahan untuk rencanan proyek KBT adalah luas lahan yang akan digunakan untuk proyek pembangunan seluas 3.600 ha, untuk luas lahan yang tidak bias diakuisisi sebagai permukiman dan industri seluas 500 ha, sisa lahan seluas 3.000 ha yang bisa di akuisisi akan digunakan untuk pembuatan danau dan insfrastruktur seluas 1.000 ha, sedangkan sisa lahan efektif yang tersedia adalah 2.000 ha. 
 
Perbandingan lahan yang dapat dikembangkan pemohon izin dan lahan yang harus diserahkan ke pemerintah adalah 2:1.
 
“Misalkan pemohon mengajukan izin pengelolaan seluas 3 ha, maka yang dapat dikembangkan adalah 2 ha, sedangkan 1 ha harus diserahkan ke pemerintah,”tutur Dedi.
 
Kondisi sosial masyarakat dan geopolitik yang tertata dengan baik di Kabupaten Bandung merupakan faktor pendukung dalam merealisasikan rencanan proyek KBT. Dedi menegaskan pengondisian aspek sosial hingga perangkat pendukung di pemerintahan seperti Perbup dan kemudahan perizinan pengembangan lahan sudah dilakukan oleh pemerintah untuk akselerasi realisasi proyek KBT. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Maman Abdurahman

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top