MONOREL MAKASSAR: Realisasi tahun ini terancam batal

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 April 2012  |  21:52 WIB

 

MAKASSAR: Pembangunan moda transportasi monorel di Kota Makassar terancam batal terealisasi tahun ini. Pasalnya, manajemen Kalla Group selaku investor mega proyek transpotasi massal tersebut tidak kunjung merampungkan studi kelayakan pembangunan moda transportasi monorel. 
 
Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapat penjelasan resmi dari pihak investor terkait dengan lambatnya perampungan studi kelayakan pembangunan moda transportasi monorel. 
 
"Saya tidak tahu kapan investor bisa memaparkan hasil studi kelayakan dan kemudian memulai proses pembangunan (monorel)," ujarnya kepada Bisnis hari ini. 
 
Padahal penandatanganan MoU telah dilakukan sejak Juli tahun lalu. Selain itu, konsultasi yang dilakukan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI juga belum mendapatkan rekomendasi untuk mendukung pembangunan moda transportasi monorel. 
 
Kendati belum mendapat laporan studi kelayakan dan rekomendasi dari Bappenas RI, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar telah melakukan berbagai persiapan mulai dilakukan Dinas Perhubungan Kota Makassar untuk memperlancar pembangunan jaringan infrastruktur modern tersebut.
 
Salah satunya dengan melakukan inventarisasi infrastruktur lain yang kemungkinan mengalami kerusakan jika pembangunan monorel mulai direalisasikan. "Site plan-nya memang sudah ada, jadi inventarisasi akan lebih mudah dilakukan," jelas Ilham. 
 
Menurutnya, pembangunan monorel di Makassar bukan hanya sebagai solusi mengatasi kemacetan di kota ini , tapi juga untuk mendukung sinergi tiga daerah lainnya yaitu Maros, Sungguminasa dan Takalar juga seiring dengan penerapan Kawasan Strategis Nasional Mamminasata.
 
"Dan tentunya diharapkan akan menunjang laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Makassar," tegasnya.
 
Berdasarkan rencana, proyek monorel tersebut akan melalui tiga jalur, diantaranya dengan menghubungkan Terminal Regional Daya-Lapangan Karebosi sepanjang 14 kilometer yang melewati Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Urip Sumohardjo, Jalan Bawakaraeng, dan berakhir di Lapangan Karebosi Jalan Jenderal Sudirman sebagai stasiun utama.
 
Kemudian Jalur Lapangan Karebosi-Sungguminasa, Gowa yang akan melewati sejumlah jalan sterategis di Kota Makassar menuju Sungguminasa di Kabupaten Gowa dengan panjang 12 kilometer. Dan Jalur terakhir adalah jalur dari Kabupaten Maros ke Terminal Regional Daya. 
 
Investasi Rp4 triliun
 
Adapun estimasi anggaran pembangunan monorel tersebut, mencapai Rp4 triliun yang 100% bersumber dari Kalla Group selaku investor. Namun, sebelumnya Pemerintah Kota Makassar memproyeksikan nilai investasi pembangunan khusus infrastruktur monorel akan mencapai Rp1,2 triliun.
 
Ilham sebelumnya mengatakan alokasi investasi tersebut  dibutuhkan untuk membangun terminal monorel di kawasan sibuk seperti Karebosi. “Pembangunan monorel tidak harus menunggu hingga lalu lintas di Makassar padat. Karena tidak tertutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan jumlah kendaraan di Makassar sudah tidak dapat tertampung ruas jalan,” ujarnya.
 
Berdasarkan studi kelayakan, kajian monorel itu diharapkan rampung pada 2012. “Kami mulai melakukan studi kelayakan penyediaan monorel karena rencana pembangunan monorel ini sudah dalam tahap kajian. Jika kajian ini rampung, maka seluruh hasil survei akan diserahkan ke investor untuk menjadi bahan pertimbangan,” jelasnya.
 
Monorel adalah metro atau rel dengan jalur yang terdiri dari rel tunggal namun berbeda dengan rel tradisional yang memiliki dua rel paralel sehingga dengan sendirinya, ukuran kereta lebih lebar dibandingkan relnya.
 
Investasi monorel tersebut dinilai menjanjikan dari aspek bisnis sehingga Pemkot Makassar optimistis proyek akan diminati banyak pihak. Berdasarkan data sementara hasil survei transportasi Dinas Perhubungan Makassar 2010-2011 diketahui jumlah penumpang kendaraan umum di Makassar mencapai 500.000 orang per hari. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Amri Nur Rahmat / Roni Yunianto

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top