SENI TRADISIONAL akan digalakkan untuk ramaikan mal

 
News Editor | 17 April 2012 20:12 WIB

 

MALANG: Mal atau pusat perbelanjaan di Kota Malang diminta untuk terlibat aktif dalam menampilkan kesenian tradisional maupun dolanan anak-anak  sebagai upaya untuk melestarikan budaya bangsa.
 
Direktur Pengembangan Seni Rupa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Watie Moerany  mengatakan sudah saatnya kesenian dan dolanan tradisional anak-anak seperti ludruk, ketoprak, tari, kuda lumping, egrang, bak sodor, dan dakon, juga ikut meramaikan mall ataupun pusat-pusat perbelanjaan.
 
“Dalam hal ini pemerintah daerah [pemda] setempat harus bisa memasilitasi. Sehingga kalau ada Timezone disebelahnya ada gelaran seni tradisional maupun dolanan anak-anak,” katanya hari ini.
 
Dengan peran pengelola mal atau pusat perbelanjaan turut aktif melestarikan seni tradisional, maka anak-anak tidak akan lupa terhadap budaya bangsa yang sudah mulai tidak banyak dilirik itu.
 
“Jangan sampai anak-anak kita sekarang berkiblat pada budaya luar dan demam K-Pop [Korea Pop] seperti boy band dan girl band. Sementara banyak budaya sendiri yang tidak kalah menarik.”
 
Karena pada dasarnya, kesenian tradisional tersebut mampu melatih keterampilan dan kesabaran pada anak karena sifatnya yang tidak instan jika dibandingkan dengan seni maupun permainan yang ada sekarang.
 
“Jadi dalam hal ini perlu di dorong oleh kebijakan dari pemda setempat untuk pelestariannya.”
 
Pemerhati seni dan budaya yang juga Dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, Prof. Ayu Sutarto, mengatakan diakui atau tidak bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai persoalan. Salah satu persoalan berat yang sedang dihadapi adalah persoalan domestik.
 
“Yakni persoalan dari dalam diri sendiri terkait dengan wacana kehidupan berbangsa dan bernegara. Persoalan yang dimaksud adalah bagaimana bangsa ini bisa terus memelihara, mempertahankan, dan mengamalkan nilai-nilai mulia yang dimiliki yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk menata dan membangun dirinya sehingga dapat tumbuh sebagai bangsa yang bisa bersaing dengan bangsa lain,” jelas dia.
 
Bangsa yang dapat tumbuh menjadi kekuatan besar itu adalah bangsa yang berangkat dari kebudayaan dan tradisinya sendiri baik tradisi belajar, bekerja, maupun berpikir. (sut)
 

Sumber : Mohammad Sofi`i

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top