BIAYA LOGISTIK di KTI tertinggi di Indonesia

 
News Editor | 17 April 2012 19:53 WIB

 

MAKASSAR: Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia atau Gafeksi Sulsel menilai biaya logistik di kawasan Timur Indonesia adalah yang tertinggi di Indonesia sehingga menyebabkan harga barang di wilayah ini lebih mahal dibandingkan dengan harga barang di Pulau Jawa, Sumatra dan Bali.
 
Sekretaris Gafeksi Sulawesi Selatan Maruddani Pangerang mengatakan kontribusi biaya pengiriman barang di kawasan timur dapat mencapai antara 50% dan 60% dari harga barang.  
 
"Padahal di Jawa, Sumatra, dan Bali, kontribusi biaya logistik-nya hanya 30%. Kondisi tersebut, jelas membuat harga barang di kawasan timur Indonesia cukup mahal," ujarnya, Selasa 17 April 2012.
 
Dia memberi contoh, harga satu zak semen di Makassar saat ini mencapai Rp45.000 hingga Rp50.000, tiba di Papua, harganya bisa melonjak menjadi Rp200.000 per zak. Sementara itu, barang-barang yang diproduksi di Sulsel atau di wilayah timur lainya, hingga kini masih sulit bersaing di pasar nasional, sebab biaya logistiknya yang mahal.
 
Maruddani menambahkan, persoalan utama dari mahalnya biaya logistik tersebut adalah terkait infrastruktur yang tersedia. Misalnya untuk pengiriman barang dari Makassar ke Manado melalui darat, masih memakan waktu antara 4 hari dan 5 hari. 
 
Padahal, jaraknya kurang lebih sama dengan jarak dari Surabaya ke Jakarta. Adapun waktu tempuh dari Surabaya ke Jakarta, hanya sekitar satu malam. Itu pun belum termasuk kapasitas angkut. Di Jawa, Sumatra, dan Bali, dari sisi kapasitas, angkutan bisa mengangkut 48 ton barang sekali jalan.
 
Sementara itu dari Makassar ke Manado, barang yang bisa didistribusikan hanya sekitar 20 ton saja. Ini adalah kondisi riil yang terjadi. Seharusnya, papar Maruddani, persoalan tersebut bisa diselesaikan oleh masing-masing pemerintah provinsi. Apalagi sekarang telah dibentuk Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS).
 
Lembaga tersebut, ungkapnya, bisa menjembatani persoalan mahalnya biaya logistik di kawasan timur Indonesia yang disebabkan oleh kendala infrastruktur. "Tidak ada jalan lain [untuk menekan biaya logistik], selain harus membangun infrastruktur guna mengatasi masalah ini," tegasnya.
 
Pengembangan pelabuhan
 
Direktur Utama PT Pelindo IV (Persero) Harry Sutanto juga pernah mengatakan, persoalan utama distribusi logistik di kawasan timur adalah infrastruktur. 
 
"Apalagi daya tampung beberapa pelabuhan di kawasan timur yang berada di wilayah Pelindo IV, kini sudah sangat terbatas," katanya.
 
Akibat hal itu waktu tunggu kapal pun menjadi tinggi, begitu juga proses bongkar muat di masing-masing pelabuhan. Hal itu lanjutnya, baru dari satu aspek saja. Belum lagi persoalan lainnya seperti, gudang-gudang penampung di beberapa pelabuhan di wilayah timur yang tidak buka selama 24 jam.  
 
"Seharusnya barang yang dibongkar bisa langsung masuk ke gudang, tapi karena tidak buka 24 jam terpaksa harus menunda hingga beberapa jam baru bisa masuk ke gudang penampung," paparnya.
 
Dia menegaskan, terkait dengan tingginya waktu tunggu kapal menurut Harry, pihaknya sudah menyiapkan investasi Rp762 miliar tahun ini, untuk melakukan pengembangan beberapa pelabuhan di kawasan timur.
 
Dari rencana investasi itu, ada yang kini sudah berjalan, ada yang sedang dalam tahap persiapan, sedangkan untuk Pelabuhan Makassar, Pelindo IV sedang merencanakan perluasan Dermaga Soekarno seluas 150 meter, dari yang ada sekarang hanya 1.360 meter, guna meminimalisir waktu tunggu kapal yang belakangan ini cukup tinggi di Pelabuhan Makassar. 
 
Rencana perluasan dermaga itu sendiri, diestimasi menelan investasi kurang lebih Rp150 miliar. Saat ini pihaknya tengah menunggu rekomendasi yang dikeluarkan pihak Pemkot Makassar, setelah itu proses pembangunan segera dilakukan.
 
Adapun investasi yang Rp150 miliar tersebut menurut Harry, diluar nilai investasi yang Rp762 miliar tahun ini. "Nilai investasi Rp150 miliar untuk perluasan Dermaga Soekarno, merupakan investasi khusus, diluar yang Rp762 miliar rencana investasi kami tahun ini," tegasnya. (sut)

Sumber : Wiwiek Dwi Endah

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top