BILATERAL: RI & Selandia baru tingkat kerja sama geothermal

JAKARTA: Selandia Baru berniat meningkatkan kerja sama di bidang geothermal dengan Indonesia yang dinilai memiliki sumber daya panas bumi yang melimpah.Perdana Menteri Selandia Baru John Key mengungkapkan salah satu sektor yang hendak dikembangkan negaranya
Master Sihotang | 16 April 2012 17:46 WIB

JAKARTA: Selandia Baru berniat meningkatkan kerja sama di bidang geothermal dengan Indonesia yang dinilai memiliki sumber daya panas bumi yang melimpah.Perdana Menteri Selandia Baru John Key mengungkapkan salah satu sektor yang hendak dikembangkan negaranya di Indonesia yakni terkait eksplorasi geothermal untuk pembangkit listrik. Seperti diketahui, Selandia Baru merupakan salah satu negara yang paling banyak menggunakan geothermal sebagai pembangkit listrik."Sektor energi, khususnya geothermal karena Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar, semoga kita bisa mengembangkan kerjasama untuk mengembangkan potensi ini," ujarnya dalam pertemuan dengan jajaran Komite Ekonomi Nasional, hari ini.Saat ini, Indonesia dan Selandia Baru memiliki kerjasama di bidang geothermal berupa perjanjian asistensi teknis dengan PT Pertamina Geothermal Energy yang nilainya mencapai NZ$10,5 juta. Kerjasama ini berlangsung selama 5 tahun.Ketua KEN Chairul Tanjung mengungkapkan Indonesia memiliki potensi geothermal yang mencapai lebih dari 50% dari potensi geothermal dunia. Namun, untuk dapat mengembangkannya Indonesia membutuhkan dukungan dari negara yang sudah berhasil, seperti Selandia Baru."Itu kita menginginkan supporting dari Selandia Baru terkait dengan pembangkitan geothermal dan investasi sektor geothermal di Indonesia. Atau mungkin dukungan berupa technology assistence dari perusahaan Selandia Baru untuk membuat geothermal di Indonesia supaya bisa lebih berkembang lagi," ujarnya.Namun kedua belah pihak belum mengungkapkan nilai dari komitmen investasi dan kerjasama yang ingin dikembangkan di sektor ini.Majukan sektor peternakanSelain sektor geothermal, Key mengungkapkan minat Selandia Baru untuk mengembangkan sektor makanan, pendidikan, dan pariwisata di Indonesia. Penandatanganan perjanjian perdagangan bebas dalam skema Asean-Australia and New Zeland Free Trade Agreement (AANZFTA) yang berlaku sejak akhir 2011 juga dinilai berpotensi mendongkrak perdagangan kedua negara."Basis ekspor utama Selandia Baru itu produk makanan, beberapa perusahaan utama di bidang produk olahan susu berniat mengembangkan bisnisnya di Indonesia," ujar Key.Di bidang pendidikan, Selandia Baru mengajukan kerjasama keringanan biaya bagi mahasiswa program Ph.D di beberapa Universitas terkemuka. Sementara di sektor turisme, kedua negara mengembangkan rute penerbangan langsung Jakarta-Auckland melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Garuda Indonesia dengan Auckland International Airport.Di sisi lain, Chairul Tanjung berharap kerjasama bilateral antara Indonesia-Selandia Baru dapat mengembangkan industri peternakan di Indonesia. Melalui pelatihan dan pengembangan teknologi bagi peternak Indonesia, diharapkan produksi daging dapat dipacu."Kita masih kurang produksi daging sapi dan daging kambing. Jadi tadi kita bicarakan bagaimana mengembangkan peternak kita supaya bisa meningkatkan produksinya, daging maupun susu yang lebih baik," kata Chairul.Berdasarkan catatan Kedutaan Indonesia di Selandia Baru, nilai ekspor Indonesia ke  periode Januari-Desember 2011 tercatat sebesar NZ$724 juta, atau naik sebesar 12% jika dibandingkan tahun 2010 yang mencapai NZ$647 juta. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Selandia Baru, a.l. CPO, oil cake, gas, karet, kertas, dan furniture, dan makanan.Sedangkan total nilai perdagangan kedua negara mencapai NZ$1,57 miliar atau sekitar US$1,33 miliar. Neraca perdagangan kedua negara menunjukkan Selandia Baru surplus sebesar NZ$132 juta. (faa) 

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top