BIKSU VIETNAM bangun pagoda di pulau sengketa

HANOI: Lima biksu Buddha Vietnam bertolak menuju Kepulauan Spratly yang disengketakan di mana mereka akan berada selama enam bulan untuk membangun pagoda-pagoda, kata seorang biksu senior, Jumat.Para biksu itu akan membangun kembali tiga kuil yang ditinggalkan
News Editor | 14 April 2012 00:14 WIB

HANOI: Lima biksu Buddha Vietnam bertolak menuju Kepulauan Spratly yang disengketakan di mana mereka akan berada selama enam bulan untuk membangun pagoda-pagoda, kata seorang biksu senior, Jumat.Para biksu itu akan membangun kembali tiga kuil yang ditinggalkan oleh Vietnam pada 1975 tetapi balum lama ini direnovasi sebagai bagian dari usaha negara komunis itu untuk mmperkuat klaim wilayah perairannya atas pulau-pulau yang kaya minyak itu."Kami berencana akan tinggal di Kepulauan Truong Sa (Spratly) selama enam bulan," kata Thich Giac Nghia di satu kapal yang berlayar menuju pulau-pulau dari gugusan Spratly yang dikuasai Vietnam.Tim itu akan tinggal di salah satu dari pulau-pulau yang lebih besar yang berada dibawah kekuasaan militer Vietnam. Seorang biksu lagi akan bergabung dalam tim itu sehari kemudian, tambahnya."Tujuan para biksu itu adalah meningkatkan kehidupan agama masyarakat pulau yang dikuasai Vietnam-- sebagian besar staf militer dan sejumlah kecil petani dan nelayan dan untuk membantu mereka mengatasi kesulitan setiap hari, kata Nghia.Klaim Vietnam atas Spratly bersaingan langsung dengan China, yang mengatakan pihaknya memiliki kedaulatan atas seluruh Laut China Selatan, satu rute penting perdagangan internasional.Pada  1988 China menyerang Pulau Ga Mac-- satu daerah lebih luas di Kepulauan Spratly yang berada dalam kekuasaan militer Vietnam--menewaskan 64 tentara Vietnam.Taiwan, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina juga mengklaim bagian-bagian perairan Spratly yang kaya minyak itu.Semua yang mengklaim kepulauan itu kecuali Brunei Darussalam menggelarkan pasukan di kepulauan yang memiiki lebih dari 100 pulau kecil, batu karang dan atol, yang luas seluruh daratannya kurang lima kilo meter persegi.Filipina dan Vietnam baru-baru ini mengeluhkan atas gangguan yang meningkat terhadap para nelayan mereka oleh kapal-kapal China di wilayah itu.Vietnam dan China juga terlibat sengketa tang lama menyangkut kelompok Pulau Paracel. (Antara/AFP/arh)

Sumber : Newswire

Tag :
Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top