GANK MOTOR JAKARTA: Selamat datang KEBRUTALAN baru (bagian 1)

 
News Editor | 13 April 2012 12:11 WIB

 

BEBERAPA HARI ini, saya membaca di beberapa media online tentang aksi brutal gerombolan orang bermotor yang sering disebut gank motor di beberapa tempat di Jakarta.

 

Saya sebut brutal karena memang yang mereka lakukan brutal.  Merusak tempat, merampas barang, memukuli bahkan membacok orang. Apalagi kata yang pas untuk menyebut perilaku itu kecuali satu kata, BRUTAL.

 

Kumpulan anak muda bermotor memang bukan sesuatu yang baru di Jakarta. Namun, apabila disandingkan dengan tindakan brutal itu, fenomena gank motor menjadi sesuatu yang belum lazim terjadi di Jakarta selama bertahun-tahun.

 

Kalau sering pulang tengah malam sampai menjelang subuh, melewati jalan tertentu seperti Jl. Mas Mansyur dekat pemakaman Karet, Jakarta Pusat, kawasan Kemayoran, atau Jalan Pramuka di Jakarta Timur, pastilah Anda sering menyaksikan ratusan motor terparkir di pinggir jalan.

 

Namun, sepengetahuan saya, mereka itu adalah kelompok yang yang sering disebut pembalap jalanan dengan istilah trek-trekan alias adu kebut.

 

 Nyali di kumpulan itu diukur dengan seberapa cepat mereka bisa ‘menerbangkan’ motor yang kebanyakan sudah di-seting, istilah untuk dimodifikasi.

 

Dengan trek yang tidak panjang, sekitar 1 km, seperti yang dituturkan Herry, lelaki yang kerap ambil bagian dalam ritual trek-trek-an meski bukan sebagai joki—istilah untuk pembalap jalanan—motor bisa melaju sampai dengan kecepatan 135 km per jam!

 

Balapan subuh, kadang istilah itu digunakan untuk menyebut trek-trekan, juga dibumbui oleh judi. “Kalau motor yang top yang turun, taruhan resmi bisa sampai puluhan juta, bang,” tutur Herrry.

 

Taruhan resmi  adalah perjudian di antara kubu pembalap yang cuma diikuti oleh dua kubu. Tidak seperti balapan motor GP, balapan subuh itu hanya diikuti dua pembalap.

 

Asal Anda tahu, para joki itu tidak menggunakan perlengkapan sebagaimana layaknya Valentino Rossi dan kawan-kawan adu cepat di lintasa MotoGP.

 

Jangankan untuk menggunakan pengaman seperti helm atau pelindung tangan dan kaki, sekadar memakai jaket biasa pun si joki emoh. Alasannya adalah agar motor tidak terlalu terbebani dengan segala aksesoris pembalap itu.

 

Selain taruhan resmi ada juga ‘taruhan luaran’.  Perjudian ini dilakukan oleh para penggembira yang menonton balapan—biasanya juga terdiri dari kelompok-kelompok.

 

Taruhan dilakukan dengan gentlement agreement di antara mereka tanpa ada yang mengelola seperti bandar. Konkretnya begini. Ketika ada balapan, sebut saja kubu  A dan kubu B, para penoton akan saling bertaruh di antara mereka.

 

Mereka bertaruh cuma berlandaskan rasa saling percaya. Uang taruhan tidak diserahkan kepada bandar misalnya. “Pokoknya kita tahu sama tahu aja, gak ada yang mengelola,” ujar Herry.

 

Nah, keributan bahkan perkelahian di antara kelompok bermotor itu kerap muncul akibat faktor perjudian itu.

 

Tidak jarang terjadi wanprestasi di antara para petaruh. Singkatnya, yang kalah tiba-tiba menghilang alias tidak mau membayar.

 

Taruhan resmi juga memiliki risiko menimbulkan perkelahian. Tentu hal itu menjadi sesuatu wajar karena balapan tersebut tidak memiliki aturan tertulis dan wasit yang jelas. Namanya juga balapan liar.

 

Kekerasan yang muncul di jalanan oleh gank motor di Jakarta selama ini muncul yah karena sebab-sebab tadi. Bukan karena gank motor itu sejatinya kelompok yang mereka yang gemar dengan vandalisme  dengan turunannya.

 

Fenomena gank motor dengan kebrutalan, sepanjang sepemahaman saya, bukan sesuatu yang berkembang di Jakarta. Justru di luar daerah seperti Bandung dan Yogyakarta, gank motor dengan aroma sadis bermunculan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. (eries.adlin@bisnis.co.id)

 

 

 

 

Sumber : Sutan Eries Adlin

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top