KOPERASI & UKM di Kalbar tumbuh pesat

 
News Editor | 12 April 2012 17:32 WIB

 

PONTIANAK: Perkembangan koperasi dan usaha kecil dan menengah di Kalimantan Barat diklaim cukup menggembirakan, khususnya koperasi yang berada di wilayah-wilayah perdesaan dan daerah perbatasan di provinsi tersebut.
 
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kalimantan Barat (Kalbar) Sahaldin Usman mengatakan sinergi pembangunan koperasi yang dilakukan dengan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota telah menujukkan kemajuan yang pesat.
 
"Kini di Kalbar kelompok-kelompok koperasi telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila ada persoalan anggota koperasi tersebut, baik kebutuhan bahan baku dan permodalan bisa diakomodir lewat kelompok tersebut," katanya kepada Bisnis hari ini, di sela pameran Nusantara Expo yang digelar hingga 15 April mendatang.
 
Dia mengatakan sejauh ini ada sekitar 4.000 koperasi dengan jumlah anggota lebih dari 100.000 orang yang tersebar di Kalbar. Dia mengklaim koperasi di daerah ini mampu meningkatkan taraf ekonomi anggotanya, bahkan koperasi di desa-desa mampu membangun tempat-tempat pelayanan.
 
Koperasi di Kalbar, tegas Sahaldin, juga telah merambah hingga perbatasan seperti di Lantang Tipo Kabupaten Sekadau. Produk-produk koperasi dan UKM dari daerah ini telah menembus pasar ekspor ke luar negeri baik Malaysia maupun Singapura.
 
Hasil kerajinan koperasi dan UKM di Kalbar seperti tas wanita yang terbuat dari kulit kayu dan anyaman rotan bahkan memiliki harga yang cukup tinggi, kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Produk-produk hand made tersebut memiliki pangsa pasar  tersendiri, seperti dari kalangan wanita kelas menengah atas baik domestik maupun mancanegara.
 
Bupati Kabupaten Sintang Milton Crossby beranggapan kontribusi hasil kerajinan koperasi dan UKM di daerahnya masih sangat kecil, yakni sekitar 0,8% dari pendpatan asli daerah (PAD) yang mencapai Rp50 miliar pada 2011.
 
Dia mengatakan,  Sintang masih fokus pada sektor pertambangan dan perkebunan. Dua sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar PAD Kabupaten Sintang. Namun, tegas Milton, pihaknya tetap mengupayakan agar hasil kerajinan yang diproduksi UKM dan koperasi bisa terus ditingkatkan.
 
Senada dengan Milton, Walikota Pontianak Sutarmidji menilai bahwa kontribusi pendapatan produk kerajinan dan UKM terhadap PAD tidak bisa disamaratakan antara daerah satu dengan lainnya.
 
Namun, kata Sutarmidji, pemerintah setempat bisa membantu pengembangan sektor kerajinan dan UKM agar lebih mandiri, misalnya dengan membebaskan biaya retribusi. 
 
Kota Pontianak sendiri memiliki produk UKM andalan dengan bahan baku dari lidah buaya dan kini terdapat 30 turunan dari produk tersebut. Selain lidah buaya, Pontianak juga memiliki produk kerajinan kulit kayu dan tenun ikat di Kabupaten Sintang.
 
Di sisi lain, kegiatan Nusantara Expo diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan yang menampilkan produk-produk unggulan dengan jumlah 83 stan.  Nusantara Expo ini  bertujuan memberi kesempatan bagi UKM dan koperasi untuk mempromosikan produk masing-masing serta meningkatkan peran usaha kecil dan menengah. (sut)

Sumber : Odie Krisno

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top