PASAR PROPERTI KOMERSIAL: Sektor ritel mulai bergeser ke daerah luar Jawa

JAKARTA: Pasar properti komersial di sektor ritel pada tahun ini mulai bergeser ke daerah luar Jawa, seperti Makassar, Palembang, Pekanbaru, dan Manado.Ali Tranghanda, Direktur Indonesia Property Watch, mengatakan saat sektor ritel di kota-kota besar
Anggriawan Sugianto | 12 April 2012 19:19 WIB

JAKARTA: Pasar properti komersial di sektor ritel pada tahun ini mulai bergeser ke daerah luar Jawa, seperti Makassar, Palembang, Pekanbaru, dan Manado.Ali Tranghanda, Direktur Indonesia Property Watch, mengatakan saat sektor ritel di kota-kota besar di Jawa mulai kelebihan suplai, pasar di luar Jawa justru mulai bertumbuh.“Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, maka properti ritel di daerah-daerah tersebut juga ikut terkerek, sedangkan di kota besar di Jawa, seperti Jakarta, malah sudah over supply,” katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis 12/04/12.Saking over suplai-nya, Pemerintah Daerah Jakarta bahkan memberlakukan moratorium pembangunan pusat perbelanjaan tahun ini. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta saat ini, menurut Ali, mencapai 95%.Namun, dia menilai moratorium ini akan menguntungkan bagi Bandung yang lokasinya berdekatan dengan Jakarta, karena ada kemungkinan pengembang pusat perbelanjaan akan mengalihkan proyeknya ke sana.“Dengan tingkat okupansi sekitar 85%, tahun ini saya perkirakan Bandung butuh tambahan area komersial ritel seluas 35.000 m2 tahun ini,” jelas Ali.Sebelumnya, Handaka Santoso, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jakarta Raya membantah jika Jakarta dinilai kelebihan suplai mall, sebab saat ini, rerata tingkat okupansi 73 pusat perbelanjaan dan mall di ibukota  masih sangat tinggi, yakni 90%.Sedangkan rerata kunjungan mall di hari biasa mencapai kisaran 50.000-120.000 orang per hari dan meningkat dua kali lipat di akhir pekan. Sejumlah ritel ternama global seperti Uniqlo dan H&M, lanjutnya, sampai hari ini belum masuk ke pasar Indonesia ataupun Jakarta karena tidak ada sisa ruang ritel yang tersedia.“Dengan membangun mall baru, terutama di segmen menengah dan atas, kita bisa membendung masyarakat untuk berbelanja di luar negeri. Lagipula, mall untuk segmen itu di Jakarta baru ada 15% dari total pusat perbelanjaan,” terangnya.Didi Woeljadi Simson, Ketua APPBI Jawa Timur, mengaku belum mendengar ada rencana pembangunan pusat perbelanjaan baru di Surabaya tahun ini.“Mungkin karena para investor paham kalau pasar pusat perbelanjaan di Surabaya sudah jenuh dan tingkat okupansi ideal, yakni 70%, sudah sulit tercapai. Lain ceritanya dengan pasar di luar Surabaya seperti Malang, Kediri, atau Banyuwangi,” ujarnya. (faa)

Tag :
Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top