FESTIVAL KAMPUNG CELAKET genjot wisata Malang

 
News Editor | 08 April 2012 20:19 WIB

 

MALANG: Momen Festival Kampung Celaket atau International Celaket Cross Cultural Festival (ICCCF) diharapkan bisa mendongkrak Kota Malang menjadi lebih mendunia.
 
Sugiyanto, Direktur Malang Tourism Center,  mengatakan penyelenggaraan ICCCF tersebut patut diapresiasi positif karena akan semakin membuat Malang dikenal oleh para turis asing. Kebetulan mulai April wisatawan asal Eropa utamanya Belanda sudah mulai masuk Malang.
 
“Saat ini turis asing sudah mulai banyak masuk ke Malang. Dan pelaksanaan ICCCF tersebut bakal menjadi destinasi wisata tersendiri bagi wisatawan manca yang memang sangat concern terhadap seni tradisional,” katanya hari ini.
 
Karena itu, pihaknya berharap agar momen seperti ini digelar secra rutin di Kota Malang tentunya dengan kemasan yang menarik. Karena selama ini meski banyak event bertajuk wisata dan budaya, namun keberadaannya masih belum dikenal secara luas.
 
“Tentunya keberadaan ICCCF ini kian melengkapi kegairahan Malang yang terus bersolek. Apalagi wisata kuliner Malang meski belum seperti Solo dan Bandung namun sudah banyak memikat wisatawan asing.”
 
ICCCF  yang berlangsung 8-10 April dimarakkan oleh sedikitnya 18 penyair asing. Mereka itu datang dari Eropa, Amerika, Australia dan Afrika Selatan (Afsel) untuk berkolaborasi dengan penyair dari Malang dan Jawa Timur (Jatim).
 
Penyair asal Jerman, Silke Behl, mengatakan ICCCF memerupakan gelaran yang menarik karena menyatukan beragam seni. Dia bersama para penyair lintas Negara menyempatkan hadir untuk tampil di hadapan publik Malang. 
 
“Awalnya kami takut dan kuatir untuk datang ke Indonesia. Karena selama ini kami mendengar Indonesia diwarnai dengan konflik dan kerusuhan. Namun ternyata hal itu tidak terjadi di Malang,” jelasnya.
 
Bahkan, pihaknya mengaku kagum dengan budaya Indonesia setelah 10 hari berkeliling Jawa. Kekaguman itu diantaranya sewaktu menyaksikan aneka seni tradisi yang ada seperti tari Beskalan, tari Topeng Malangan, Tari Gandrung Banyuwangi, Tari Madura, dan kesenian Kuda Lumping. 
 
Pembukaan ICCCF sendiri diawali dengan pembacaan puisi oleh penyair asal Jerman Han Van de Waarsenburg yang berjudul Batik. Penampilan Han tersebut mampu menarik perhatian para pengunjung festival. Sejumlah seniman dari berbagai daerah di Jatim juga terlihat hadir dalam acara tersebut.
 
Salah satu penyair ternama di Indonesia, Zawawi Imron, mengatakan pertemuan pujangga, penyair, dan seniman dari berbagai Negara ini diharapkan bisa menjadi pemersatu dan menjalin kerukunan. 
 
“Festival ini sekaligus membuktikan jika budaya dan seni merupakan pemersatu umat. Apalagi jika dikemas sedemikian menarik karena mempersatukan berbagai Negara melulai budaya,” tambahnya.
 
ICCCF juga menampilkan berbagai kesenian tradisional seperti seni patrol asal Madura, seni kuda lumping, Sakerah, baju adat Nusantara, wayang kulit, barongsai, wayang topeng Malangan, serta tidak ketinggalan aneka seni modern juga dihadirkan dalam forum tersebut yakni musik jazz, regae, dan break dance (tari kejang).  (sut)

Sumber : Mohammad Sofi`i

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top