RESHUFFLE KABINET: SBY dan PKS sama-sama penakut

PARA PENONTON drama perpolitikan domestik saat ini tengah menunggu apa yang akan terjadi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
News Editor
News Editor - Bisnis.com 04 April 2012  |  21:14 WIB

PARA PENONTON drama perpolitikan domestik saat ini tengah menunggu apa yang akan terjadi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

 

Hengkangnya PKS dari Sekretariat Gabungan partai politik pendukung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Boediono boleh dibilang hampir pasti.

 

Reshuffle kabinet dalam artian pencopotan tiga menteri asal PKS; Menteri Pertanian Suswono, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, sepertinya adalah suatu keniscayaan.

 

Tinggal pertanyaan selanjutnya; apakah PKS berani menyatakan diri keluar dari koalisi? Atau apakah SBY berani mengeluarkan PKS dari koalisi.

 

Syarat dari kedua jawaban atas pertanyaan itu adalah keberanian. Cuma, dalam dunia politik, soal berani atau tidak berani menjadi prioritas nomor sekian. Yang pertama dan utama adalah soal hitung-hitungan kepentingan.

 

Petinggi PKS yang dipimpin oleh Ketua Majelis Syuranya Hilmi Aminuddin dan SBY saat ini pastilah sedang sibuk-sibuknya mengotak-atik kalkulator politik mereka.

 

Bagi saya yang tidak pernah berkecimpung dalam dunia politik, persoalannya  sederhana saja kok.  Baik SBY maupun PKS harus berani mengambil sikap, dan mereka akan jelas mendapatkan keuntungan dari ketegasan itu.

 

Kalau PKS berani mengambil sikap mengatakan good bye Setgab, partai ini jelas telah mempertontonkan dirinya sebagai partai yang tidak butuh atau kemaruk dengan kursi menteri.

 

Atas nama kepentingan rakyat yang mereka munculkan melalui keputusan memilih Opsi I yang menolak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam rapat paripurna DPR, mereka rela mengembalikan tiga jabatan menteri kepada SBY.

 

Fakta itulah yang kemudian bisa jadi  jualan bagi partai berasaskan Islam tersebut kepada rakyat.

 

Kalau mereka terus berdiam diri di dalam Setgab seraya mengatakan “kami tidak takut dikeluarkan dari koalisi” jangan salahkan apabila muncul tudingan bahwa PKS mau enaknya saja.

 

KETAKUTAN SBY

 

SBY—yang sering dinilai sebagai sang peragu—juga sama saja. Saya kok bingung,  ketakutan apa yang ada di benak Presiden SBY. Padahal dia terpilih dengan suara lebih dari 62% pada Pemilihan Presiden 2009.

 

Belum lagi kalau menjadikan fakta-fakta sebelum ini tentang tingkah polah PKS yang tidak seiring dan sejalan dengan kepentingan pemerintah, misalnya mengenai kasus bailout Bank Century.

 

PKS seperti menjadi duri dalam daging dalam Setgab yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, PKS, dan Partai Persatuan Pembangunan.

 

Jadi, menurut saya, tidak ada alasan seorang SBY yang sudah punya pengalaman menjadi Presiden dua periode untuk tidak berani mengeluarkan PKS dari koalisi.

 

Sampai saat ini, saya terus terang masih belum bisa menebak apa yang ada di benak keduanya, SBY dan PKS.

 

Meski belum bisa menebak, saya merasa pantas untuk mengambil  kesimpulan sementara bahwa faktanya adalah SBY dan PKS sama-sama penakut. Maaf ya, Pak SBY, Ustad Hilmi. (eries.adlin@bisnis.co.id)

 

BACA JUGA

HARGA BBM: GOLKAR lah pemenang yang sesungguhnya...

BURSA CERITA: Tattoo HARLEY DAVIDSON

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sutan Eries Adlin

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top