'Parpol cenderung tak punya diferensiasi ideologis'

JAKARTA: Kecenderungan munculnya partai politik yang tidak punya diferensiasi ideologis dan meninggalkan pangsa pasar tradisional akan menimbulkan ancaman deparpolisasi yang bisa membahayakan demokrasi.Demikian disimpulkan dalam diskusi bertema PAN Merakyat:
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 08 Desember 2011  |  16:53 WIB

JAKARTA: Kecenderungan munculnya partai politik yang tidak punya diferensiasi ideologis dan meninggalkan pangsa pasar tradisional akan menimbulkan ancaman deparpolisasi yang bisa membahayakan demokrasi.Demikian disimpulkan dalam diskusi bertema PAN Merakyat: Tantangan atau harapan yang dilaksanakan di Rumah PAN hari ini.Tampil sebagai pembicara pada diskusi menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Amanat Nasional (PAN) itu pengamat politik dari LSI, Burhanuddin Muhtadi, peneliti dari IndoBarometer M. Qodari, dan Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto.Menurut Burhanuddin, munculnya kecenderungan partai yang tidak punya diferensiasi ideologis itu terbukti dari banyaknya kesamaan visi dan misi parpol yang mengarah ke parpol tengah.Padahal, menurutnya, kehadiran parpol tengah akan berujung pada penguasaan pangsa pasar pemilih berbasis elektoral yang sangat tergantung dari kekuatan finansial."Semua parpol makikn tidak jelas jensi kelaminnya. Semua juga meninggalkan pangsa tradisional mereka. Masyarakat kian kehilangan kepercayaan kepada parpol sehingga bisa menyebabkan deparpolisasi," ujar Burhanuddin dalam diskusi tersebut.Burhanuddin lalu mencontohkan bagaimana basis masa PAN yang dulunya sebagian besar berasal dari kalangan organisasi massa Muhammadiyah terus menurun.Begitu juga dengan Partai Keadilan Sejahtera yang mulai mengarah pada kelompok pluralis meski ketika didirikan sangat akrab dengan basis massa Islam perkotaan."PDIP juga ikut-ikutan sekarang mendirikan sayap Baitul Muslimin  untuk menarik umat Muslim kendati basis massa partai itu semula berasal dari kalangan abangan dan aliran kiri," ujarnya.Padahal, menurut dia, syarat untuk memperkuat basis masa parpol adalah dengan mempertahankan basis massa tradisional sekaligus membuka peluang ceruk baru calon pemilih.Dia menjelaskan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada parpol yang tidak jelas ideologinya akan memicu munculnya deparpolisasi.Deparpolisasi itu, ujarnya, merupakan ancaman bagi demokrasi yang terlihat dari kian turunnya tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilu."Penurunan tingkat partisipasi politik di Indonesia sangat mengkhawatirkan dimana sejak 10 tahun terakhir terjadi penurunan hingga 22%," ujarnya.Sementara Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto menyatakan penelitian mengenai basis pemilih yang dilakukan lembaga survei merupakan sebuah persepsi yang belum tentu menjadi realita.Dia menyatakan tidak sepenuhnya sependapat dengan pengamat politik tersebut karena dari hasil survei internal PAN, ternyata basis massa PAN dari kalangan Muhammadiyah  tetap setia.Menurut dia, perolehan suara PAN dari basis tradisional meningkat dari Pemilu 2004 ke 2009 terutama dari basis massa Muhammadiyah. "Pada Pemilu 2004 PAN meraih 19% pemilih dari Muhammadiyah, sedangkan pada Pemilu 2009 naik jadi 26 %," ujarnya.Pada bagian lain bima Arya juga mengatakan bahwa berdasarkan brand recognition survey menunjukkan bahwa PAN berada empat besar parpol di Indonesia setelah Demokrat Golkar dan PDIP. Dengan hasil tersebut Bima Arya optimistis perolehan suara PAN akan naik pada Pemilu 2014. (ea) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top