CEPA UE dan Indonesia dalam status quo

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 06 Desember 2011  |  15:49 WIB

 

BRUSSELS: Setelah tertundanya pembahasan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Uni Eropa dan Asean Vision Group, Komisi UE memutuskan untuk lebih mengedepankan FTA bilateral dengan tiap anggota Asean.
 
Dengan Asean yang belum terintegrasi sebagai satu entitas, UE menghadapi kesulitan dalam membahas FTA regional dengan Asean Vision Group, karena adanya ambisi yang berbeda dari tiap negara anggota Asean. Oleh karenanya, fokus ke pembahasan FTA bilateral dianggap cukup mewakili ekspektasi UE untuk membangun hubungan perdagangan yang komprehensif dengan negara-negara di Asia Tenggara. 
 
“Kami tetap menargetkan untuk memiliki FTA regional [dengan Asean]. Kami yakin FTA bilateral yang kami lakukan tidak akan mengalami overlapping dengan pembahasan FTA regional nantinya karena sebenarnya keduanya saling melengkapi,” ujar Raffaele Quarto, Policy-Coordinator Trade Relations Komisi UE untuk Asia Selatan, Korea dan Asean, menjawab Bisnis di Brussels hari ini.
 
Lebih lanjut dia jelaskan bahwa arsitektur FTA regional dengan Asean itu pada intinya menuju pencapaian perjanjian yang akan berlaku sama mengingat Asean sendiri menuju integrasi menjadi satu komunitas. “Pada 2015 saat Asean telah terintegrasi, kami yakin akan lebih mudah untuk menegosiasikan FTA regional dengan Asean karena mungkin sudah terbentuk basis produksi bersama.”
 
Di level Asia, Asean merupakan salah satu target potensial bagi UE untuk membuat perjanjian perdagangan bebas di samping dengan India dan Korea Selatan. Secara bilateral, UE tengah menyelesaikan pembahasan FTA dengan Singapura dan Malaysia. Pembahasan dengan Singapura diharapkan selesai sebelum Musim Panas 2012 sedangkan dengan Malaysia juga diharapkan selesai pada pertengahan tahun depan.
 
Dalam pembahasan FTA, Komisi UE menegosiasikan tidak hanya masalah tarif tapi juga sektor jasa, kesehatan, Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), dan bagaimana penciptaan iklim investasi yang sehat guna memfasilitasi kegiatan bisnis yang adil.
 
Indonesia dan Filipina juga menjadi target selanjutnya bagi FTA bilateral UE. Khusus dalam kasus Indonesia, UE memulainya dengan membuat perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) yang diselesaikan pertengahan 2011 ini.
 
Perjanjian dengan Indonesia dianggap penting mengingat Indonesia memenuhi sejumlah kriteria yang ditentukan UE dalam pembuatan FTA, yaitu di antaranya adalah pertumbuhan produk domestik bruto yang positif dan populasi yang besar. 
 
“Kami memulainya dengan CEPA karena ada banyak area sensitif antara UE dan Indonesia. Proposal FTA sepertinya tidak terlalu kondusif bagi Indonesia, dan kami akan menunggu kapanpun Indonesia siap untuk itu. Namun kami masih menyimpan ambisi untuk memiliki FTA [dengan Indonesia] ke depannya,” tutur Quarto.
 
Status quo
Namun, seperti diakui Quarto, CEPA memasuki masa ‘status quo’ karena adanya perombakan di susunan kabinet Indonesia, termasuk pada posisi Menteri Perdagangan, sehingga UE harus menunggu untuk penerapan CEPA dengan Indonesia. Pihak Indonesia dikatakan dia meminta waktu untuk sosialisasi dengan pihak pebisnis dan organisasi non pemerintah.
 
UE menilai pencapaian CEPA ini sangat positif karena akan memberikan manfaat bagi Indonesia, termasuk dalam hal penciptaan lapangan kerja. CEPA, ungkapnya, juga memberikan kepastian bagi bisnis, seperti dalam produk perkayuan. Seluruh produk perkayuan asal Indonesia yang diekspor ke UE perlu memperoleh sertifikasi agar dapat dipasarkan di blok 27 negara itu. (ln)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Nana Musliana Oktaviana

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top