SBY: Waspadai fluktuasi harga minyak

JAKARTA: Pemerintah mengawasi pergerakan harga minyak  dan  menyiapkan antisipasi  atas kemungkinan terjadinya gejolak mengingat saat ini sudah menembus angka US$100 per barel, serta masih terjadinya gejolak politik terutama di  kawasan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 06 Desember 2011  |  17:01 WIB

JAKARTA: Pemerintah mengawasi pergerakan harga minyak  dan  menyiapkan antisipasi  atas kemungkinan terjadinya gejolak mengingat saat ini sudah menembus angka US$100 per barel, serta masih terjadinya gejolak politik terutama di  kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan tentunya akan menjadi masalah jika pemerintah gagal mengatasinya mengingat keperluan akan minyak di dalam negeri  terus mengalami peningkatan.

“Harga minyak sekarang ini kembali tembus US$100 per barel. Kita masih ingat puncaknya pada tahun 2008 itu tembus US$ 145 per barel, setelah itu turun.  Tetapi sekarang krisis ekonomi global datang lagi, tapi anehnya harga minyak tetap bertengger dan tidak turun seperti 2009-2010,” kata kata Presiden Yudhoyono saat acara penyerahan penghargaan ketahanan pangan Adhikarya Pangan Nusantara 2011 di Istana Negara hari ini.

SBY mempekirakan banyak faktor yang menyebabkan harga minyak tetap bertengger tinggi meski dunia mengalami krisis saat ini, antara lain akibat ulah dari para spekulan, sebagian dari para trader.

Pedagang minyak pada tingkat global juga  mempunyai sentimen geopolitik akibat situasi  panas di Iran, negara di Afrika Utara, Timur Tengah, yang turut menciptakan ketidakpastian harga minyak dan kemudian cenderung tinggi.

“Saya mengikuti berita pagi ini, Iran mengancam kalau terus dikasih embargo apalagi tidak boleh  menjual minyaknya, dikatakan harga minyak akan tembus US$200 per barel ,” kata SBY.

Sementara, tambahnya, .Libia yang baru saja gonjang-ganjing menyebabkan produksi minyaknya yang semula tinggi mengalami penurunan dan sekarang sedang kembali digiatkan produksinya.

Sementara produksi minyak di Indonesia, ujarnya, mengalami penurunan. Jika sebelumnya bisa lebih dari 1 juta barel per hari, sekarang karena kondisi sumurnya sudah menurun menjadi kurang dari 1 juta barel per hari. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Linda T. Silitonga

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top