BOM SOLO: Pelaku buka situs MotoGP dan jihad di Afghanistan

Minggu (25/9) pukul 08.37 WIB, seorang pria melangkahkan kakinya ke Warnet Solonet di Jl Arifin No 129 Solo. Di billing nomor 9, lelaki yang mengaku berasal dari Jakarta ini membuka situs arrahmah.com dan  membaca beberapa artikel mengenai perjuangan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 26 September 2011  |  08:51 WIB

Minggu (25/9) pukul 08.37 WIB, seorang pria melangkahkan kakinya ke Warnet Solonet di Jl Arifin No 129 Solo. Di billing nomor 9, lelaki yang mengaku berasal dari Jakarta ini membuka situs arrahmah.com dan  membaca beberapa artikel mengenai perjuangan Islam.

Dalam catatan operator Solonet, lelaki misterius ini telah menelusuri beberapa situs mulai dari Motogp, Alquran surat Al-Baqarah, hingga perjuangan Mujahid Afghanistan, Turki dan beberapa negara di Timur Tengah.

Selama browsing di internet, pelaku dua kali log in dengan menggunakan dua nama berbeda, yakni Oki dan Eko.Semula, tidak ada hal yang mencurigakan dari aktivitas yang dilakukannya. Hingga akhirnya, lelaki berbadan kurus dan berkulit sedikit hitam ini membuka tas ransel lalu pergi ke toilet. Waktu itu, pelaku sempat ganti pakaian berupa kemeja warna putih.Sejurus kemudian, dia secara mengejutkan menitipkan tas ransel merek Eiger ke operator.

Saat itulah operator Solonet bernama Rina Ristiningsih, 20, mulai menaruh curiga. Belakangan diketahui, tas ransel itu berisi Alquran, sarung, sisir, kantong kacamata, balsem, pemotong kuku dan gunting.

"Saat ngobrol, lelaki itu menggunakan bahasa Indonesia logat Jakarta. Katanya, dia ingin cari kerja di Solo. Tentang barang yang dititipkan, saya sempat ngomong, jangan-jangan isinya bom. Tapi, hal itu ditepis olehnya. Dia hanya mengatakan isinya berupa pakaian," kata Rina saat ditemui wartawan di Solonet, Minggu (25/9).

Selepas menitipkan tas ransel, orang misterius ini meninggalkan Warnet dengan berjalan kaki. Dia meninggalkan Warnet sekitar pukul 10.35 WIB dan menuju ke GBIS Kepunton. Sebelum menuju ke gereja, pelaku sempat makan di warung Bu Karti, sekitar 50 meter di sisi timur gereja. Sementara beredar informasi juga ada warga yang melihat seseorang sedang kebingungan di SD Kepatihan, tidak jauh dari gereja.

Karti, 67, pemilik warung makan sempat berbincang dengan pelaku sebelum terjadi ledakan bom. "Sebelum terjadi ledakan bom di gereja, ada satu orang mampir ke warung ini untuk membeli makanan dan sempat makan buah mangga juga. Saat saya tanya, dia menggunakan bahasa Jawa halus, orangnya juga sopan," ujar Karti saat ditemui Solopos, Minggu sore.

Menurut Karti, sekitar pukul 10.00 WIB, pria tersebut datang ke warungnya dengan berjalan kaki. "Pria itu tak banyak cerita. Katanya ingin menjemput temannya yang saat itu mengikuti kebaktian di Gereja Kepunton," ujar Karti.

Dari keterangan Karti, pria tersebut tampak tergesa-gesa segera ingin ke gereja. Bahkan, sambung Karti, pria itu terlihat mengawasi gereja saat sedang makan di warungnya. "Usai makan, pria itu kemudian berjalan kaki menuju Gereja. Ciri-ciri pria itu memakai jaket hitam dan membawa tas ransel," kisahnya.

Selang beberapa menit, Karti mendengar ledakan keras dari lokasi Gereja. Dan dia membenarkan bahwa ciri-ciri pelaku merupakan pria yang sempat mampir ke warungnya," tuturnya.

Sementara pada Sabtu (24/9) malam, beredar informasi pelaku juga sudah mengawasi gereja saat makan di warung."Dia mengaku datang dari Bandung dan ke Solo naik kereta dengan tiket seharga Rp 26 ribu rupiah," kata Warti, yang berjualan nasi di dekat gereja.

Dia menambahkan pelaku juga sempat bertanya letak gereja katolik terdekat dari lokasi. Kemudian Warti menunjukkan Gereja Maria Regina Purbawardayan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari warung. "Saya sempat menawarkan mengantarnya, tapi dia menolak," katanya.

Warti mengatakan, pelaku bom bunuh diri itu hanya makan nasi, dua kerupuk dan minum segelas teh. Total hanya habis Rp 3.000."Sepertinya tidak bawa uang banyak karena cuma makan nasi satu bungkus saja," katanya. (JBBI/Solopos)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ponco Suseno & Muhammad Khamdi

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top