Kesetiaan merek pengguna moge

Bagi sebagian besar penggemar sepeda motor, memiliki motor gede (moge) seperti Harley-Davidson, Cagiva, MV Agusta, BMW, Aprilia, dan lain sebagainya tentu merupakan sebuah kebanggaan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 September 2011  |  09:23 WIB

Bagi sebagian besar penggemar sepeda motor, memiliki motor gede (moge) seperti Harley-Davidson, Cagiva, MV Agusta, BMW, Aprilia, dan lain sebagainya tentu merupakan sebuah kebanggaan.

Harga moge yang tak jarang melebihi harga sebuah sedan. Berapa pun harga per unit, demi sebuah kenikmatan dan selera, bagi para pecintaanya hal tersebut tentu bukanlah menjadi sebuah masalah besar.

Contohnya apa yang diungkapkan Ade Suharsono, salah seorang pecinta berat motor gede Harley Davidson. Menurutnya, memiliki motor Harley Davidson merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi para pria.“Memiliki dan mengendarai motor gede jenis Harley Davidson itu membuat lelaki terlihat semakin gagah,” cetusnya. Ade yang juga merupakan salah satu anggota aktif di komunitas HDCI (Harley Davidson Club Indonesia) Chapter Jakarta ini mengaku telah begitu mencintai motor HD nya.“Sejak kecil saya sudah memimpikan bisa mengendarai motor ini karena terlihat begitu macho. Baru 12 tahunan saya memiliki HD dan kini sangat mencintainya bagaikan istri kedua,” guraunya.

Ade menuturkan memiliki motor gede tidaklah lengkap jika tidak bergabung di komunitasnya. Menurut para pecinta Harley ini belakangan komunitas motor moge kian menjamur dan istilah moge kini tidak hanya diidentikkan dengan merek Harley Davidson.Seperti yang diketahuinya moge yang diproduksi Italia dengan merek Cagiva Cagiva, MV Agusta, dan Husqvarna kini mulai merangsek di pasar kendaraan di dunia termasuk Indonesia.Namun hal tersebut nyatanya tidak dapat melunturkan kecintaannya terhadap moge Harley Davidson yang dimilikinya. “Belakangan moge itu sudah menjadi trend di Indonesia, katanya dikenal paling jago dalam hal teknologi motor di ajang lomba motor dan memenangkan balap kelas dunia meskipun dibilang telah terbukti kekuatannya serta bodi motor menyiratkan kesan kokoh saya tidak akan berpindah kelain hati, tetap mencintai Harley Davidson” paparnya.Motor besar dengan kapasitas silinder besar buatan William Harley dan Arthur Davidson di Milwaukee, Winsconsin, AS pada tahun 1903 bukan sekedar kuda besi yang dirancang untuk melahap tanjakan.

“Kalau moge buatan Jepang atau merek terbarunya memang berorientasi pada manfaat fungsional tapi kalau HD lebih mengunggulkan manfaat emosional dan ekpresi diri” katanya.

Bagi Ade, mengendarai Harley Davidson bagi pemiliknya adalah suatu kebanggaan. Berputar-putar keliling kota atau konvoi dari kota ke kota dengan menunggang Harley yang berbodi gagah, macho dan mentereng, membawa kepuasan tersendiri bagi pemiliknya.Dia menambahkan, emosi memiliki Harley-Davidson adalah tahapan tertinggi bagi pemilik dan penggemar motor ini karena merek HD. Belum lengkap mengendarai motor jika belum mendengar suara derum dan getaran khas dari motor satu ini.“Harley-Davidson adalah kombinasi dari besi, kulit, getaran, suara, yang semuanya menjadi satu. HD adalah karya seni. Ada emosi dan kebebasan yang tergambar dengan mengendarai Harley dan ini tidak dirasakan oleh moge dengan merek lain,” kilahnya.Lain lagi dengan pengalaman penggemar motor gede Humam S. Alkatiri. Dia mengaku mengenal moge dari teman dan langsung senang. Apalagi ada peluang bisnis pula di dalamnya.“Mungkin karena saya punya sense of  business. Senang dan ternyata bisa cari duit kenapa tidak? Pertama saya suka, akhirnya bisnis. Saya jalankan bareng. Sebentar lagi saya buka showroom mobil dan sepeda motor gede dan motor kecil. Geluti aja,” kata Humam.Dia juga mengikuti komunitas para pengguna mode. Humam menilai komunitas lain belum seperti komunitas pengguna Harley-Davidson. Orangnya banyak, programnya banyak, penggemarnya banyak, mereka lebih matang di pasar.“Menikmati hobi sambil bisnis. Pegeluaran saya [untuk hobi] ketutup [dari keuntungan jula-beli]. Yang penting hobi jalan.”Hobi dan bisnis dalam bidang motor gede ini prospeknya baik sampai kapan pun. Mengapa? “Orang perlu kendaraan dan life style, jadi jangan khawatir.”Dia mengaku pernah membeli Harley Davidson Rp350 juta dan dijual untung. Dia pernah memiliki Harley Davidson tipe  Screamin’ Eagle Ultra. Paling murah dia membeli Harley tipe Sportster Rp110 juta. Semua motor miliknya lengkap surat-suratnya.Sementara untuk Piaggio jualannya tak seperti Harley. “Karena komunitas Harley lebih ramai, orangnya lebih banyak dan gaung sejak dulu, gengsinya juga lain.”Untuk Piaggio yang paling mahal memang tipe MP3, harganya sekitar Rp110 juta. Variasi Piaggio lainnya memang ada yang berharga Rp25 juta, Rp35 juta sampai Rp45 juta. “Untuk kelas yang harganya mendekati Rp100 juta penjualannya  agak berat.”Untuk BMW, kata Humam, sudah ramai,  ada importirnya. Humam mengakui BMW GS Adventure sekarang sedang favorit. Motor BMW yang ada di rumahnya sekarang, sempat terjual dan kini balik lagi. ”Ah itu biasa.  Yang beli sudah bosan menjual lagi. Saya beli saja lagi. Selama ada untung kenapa tidak? Waktu beli Rp200 juta dijual Rp225 juta.”Humam menjelaskan bahwa  terkadang  yang mau dagang tanya saya, beli berapa dan  bisa jual berapa. “Ilmu  saya bagi sama orang,  rezeki tak  kemana-mana dan tak usah takut.”Konsultan pemasaran dan pakar riset pemasaran yang juga pendiri Frontier Group Handi Irawan menilai pasar motor besar semacam Harley Davidson menjangkau kelompok ekonomi A plus.Dia mengatakan ada tiga segmen pasar moge semacam Harley Davidson. Pertama, segmen konvensional yaitu orang kaya dengan penampilan sederhana yang tidak memiliki lifestyle. Segmen kedua, status oriented yaitu orang memperhatikan status sosial  yang mempunyai jabatan tinggi seperti CEO. Segmen ketiga, orang kaya baru yang usia muda.Segmen kedua dan ketiga, kata Handi, menjadi pasar potensial untuk brand tersebut. Alasan kelompok orang kaya baru, menurut dia, memiliki moge itu untuk bisa memasuki komunitas moge itu, sehingga mereka dapat menjalin hubungan atau berbisnis sesama anggota komunitas itu.Brand tersebut berkembang, katanya, karena mempunyai komunitas tersendiri. “Kekuatan HD terdapat pada komunitasnya,” kata Handi.Sementara  ekonomi Indonesia terus tumbuh, investasi pun meningkat sejak dua tahun terakhir ini, namun tidak semua orang bisa memiliki merek premium.Jadi muncul peluang pasar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi  menengah yang ingin memiliki motor besar. Maka hadirlah berbagai merek motor gede yang beredar di pasaran. Banyak negara yang memproduksi motor gede.Ada produsen otomotif dari berbagai negara memproduksi motor besar. Misalnya, Honda dan Yamaha  yang telah terkenal dengan kendaraan roda dua yang harganya memasyarakat. Lalu mereka memproduksi motor besar.Namun tantangannya, katanya, apakah perusahaan itu bisa membentuk  citra motor besar itu agar berbeda dengan motor sejuta umat, karena merek tersebut terkenal dengan produk lainnya.

Dia memperkirakan merek motor besar itu belum bisa meraih kelompok atas. Peluangnya besar bagi kedua merek tersebut, karena aksesoris dan pelayananya  sudah baik.

Handi menyarankan untuk berhati-hati dengan merek yang baru, karena kendaraan motor itu perlu service dan spare part. Untuk 2 tahun pertama, katanya, merek baru belum ada masalah. Tapi setelah itu, katanya, kendaraan motor itu perlu service dan spare part.Sebagai merek yang baru, katanya, pusat pelayanan purna jual masih terbatas, sehingga konsumen agak mengalami kesulitan untuk service dan sulit mendapatkan spare part.

Dia menyarankan untuk lebih hati-hati membeli motor besar yang produksinya sedikit, karena berhubungan dengan pelayanan purna jual.  Dia menilai merek baru itu inovatif terhadap aksesoris.  “Pasarnya ada, tapi perlu hati-hati,” katanya.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Mardiyah Nugrahani, Reni Efita Hendry & Herry Suhendra

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top