Wahana Tata ekspansi ke segmen asuransi pelayaran

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  14:53 WIB

 

SURABAYA: Manajemen Kantor Wilayah Indonesia Timur PT Asuransi Wahana Tata  berupaya meningkatkan fokus perolehan preminya dari produk asuransi properti ke asuransi pengangkutan atau marine cargo.
 
Bambang L Nugroho, Koordinator Wilayah Indonesia Timur PT Asuransi Wahana Tata, menyatakan produk asuransi marine cargo memiliki loss ratio (rasio klaim beserta pengeluaran lain dibanding perolehan premi) yang relatif rendah, hanya sekitar 20%.
 
"Bandingkan dengan loss ratio properti yang sebesar 45% atau kendaraan bermotor yang mencapai 70%.  Per Agustus ini, klaim marine cargo yang harus dibayarkan kurang lebih Rp7,35 miliar," katanya hari ini.
 
Perolehan premi kantor wilayah yang membawahi daerah Jawa Timur, Bali, dan Indonesia Timur itu mencapai Rp245 miliar per Agustus tahun ini, atau 70% dari target akhir 2011 yang dipatok Rp305 miliar. Tahun lalu, perolehan premi Wahana Tata Indonesia Timur mencapai Rp227 miliar.
 
Dari perolehan premi tersebut,  portfolio produk asuransi properti mencapai 40% atau Rp98 miliar sama dengan produk asuransi kendaraan bermotor. Sedangkan portfolio asuransi marine cargo hanya mencapai 15%, atau setara dengan RpRp36,75 miliar. 
 
Namun, per Agustus, pertumbuhan premi marine cargo naik 50% dibanding periode yang sama tahun lalu.
 
"Maka dari itu kami terus berupaya menggenjot portfolio asuransi marine cargo ini, kendati tidak melupakan produk andalan kami seperti properti dan kendaraan bermotor," jelasnya. 
 
Apalagi, tambah Bambang, belum banyak pengusaha asuransi yang bermain di produk ini.
 
Kenaikan premi ini ditunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia Timur dan kondusifnya situasi bisnis serta investasi akhir-akhir ini.
 
Rerata loss ratio Wahana Tata Indonesia Timur per Agustus  2011 mencapai 65%, dengan kata lain, klaim yang harus dibayarkan mencapai kisaran Rp159,25 miliar. Tahun lalu, total loss ratio hanya 40%. Klaim kendaraan bermotor yang harus dibayarkan sebesar Rp68 miliar, sedangkan properti berkisar Rp44,1 miliar.
 
Kenaikan ini menurut Bambang dipicu oleh banyaknya kebakaran yang terjadi akhir-akhir ini dan tumbuhnya pembelian kendaraan bermotor di bulan lalu secara kredit. "Kalau membeli kendaraan bermotor secara kredit, kan, harus menggunakan asuransi," tuturnya. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bunga Citra Arum N

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top