RI& Jepang bahas proyek MPA Rp350 triliun

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  18:27 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah Indonesia dan Jepang kembali bertemu untuk membahas rencana induk proyek Metropolitan Priority Areas (MPA) . Nilai total investasi Jepang yang digulirkan untuk proyek ini diperkirakan mencapai 2-3 triliun yen (sekitar Rp233 triliun-Rp350 triliun)
 
Dalam pertemuan kedua, pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Koordinasi bidang Perekonomian Hatta Rajasa sedangkan pemerintah Jepang diwakili oleh Yukio Edano, Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang. Keduanya berlaku sebagai ketua komite dari masing-masing negara.
 
Pada kesempatan itu, Hatta Rajasa mengungkapkan daftar proyek-proyek strategis dalam master plan MPA yang tengah dijajaki Indonesia-Jepang.  
 
"Proyek-proyek potensial berupa pembangunan infrastruktur terdiri dari 17 fast track project, mencakup transportasi, bandara, pelabuhan, pengolahan sampah, penyediaan air bersih, dan pengelolaan banjir. Kita harapkan fast track project bisa selesai pada 2014," jelasnya.
 
Yukio Edano, Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, mengatakan dalam MPA ada beberapa bidang yang perlu disegerakan seperti listrik dan air yang akan dibangun menggunakan teknologi Jepang yang ramah lingkungan. Masalah bottle neck dalam transportasi Indonesia juga dianggap Edano perlu mendapat prioritas, untuk itu pembangunan MRT (mass rapid transit), bandara dan pelabuhan akan didahulukan. 
 
"Proyek MRT misalnya, sudah diperkirakan 600 miliar yen akan diinvestasikan untuk membangun ini," ujar Edano.
 
Menurut Edano, dalam proyek-proyek MPA, pengalaman dan teknologi yang dimiliki di Jepang juga akan dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur jalan seperti underpass dan flyover. "Pembenahan infrastruktur ini dapat mendorong semangat investasi Jepang dan dunia ke Indonesia dan tentu akan meningkatkan investasi," tambah Edano. 
 
Selain itu, proyek perluasan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta juga menjadi prioritas dalam MPA. Perluasan ini akan dilakukan dengan menambah terminal, landasan pacu, dan akses bandara-perkotaan sehingga diharapkan dapat memperlebar kapasitas bandara dari 40 juta menjadi 100 juta penumpang. 
 
"Jadi ada 3 runway. Technical committee juga sedang melakukan studi untuk kemungkinan membuka bandara baru di Jawa Barat," jelas Hatta.
 
Dalam jangka menengah, tambah Hatta, MPA juga berencana membangun pelabuhan baru di Cimalaya, Karawang untuk mengantisipasi kelebihan aktivitas pelabuhan di Tanjung Priok. Selain itu, Hatta juga mengungkapkan rencana Jepang untuk mendanai proyek pembangkit listrik di Jawa Tengah sebagai salah satu proyek berskema public private partnership (PPP). (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top