KPI: Pemberitaan pengeroyokan pelajar SMA 6 berlebihan

SUMEDANG, Jawa Barat : Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dadang Rahmat Hidayat menyayangkan ekspos yang berlebih terhadap pemberitaan perselisihan yang melibatkan pelajar SMA 6 Jakarta  dan wartawan.“Ekspos seharusnya proporsional. Apalagi
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 September 2011  |  18:45 WIB

SUMEDANG, Jawa Barat : Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dadang Rahmat Hidayat menyayangkan ekspos yang berlebih terhadap pemberitaan perselisihan yang melibatkan pelajar SMA 6 Jakarta  dan wartawan.“Ekspos seharusnya proporsional. Apalagi mengingat anak SMA itu masih anak-anak. Ada etika dan ketentuan bagaimana menampilkan seorang anak di bawah umur yang diduga pelaku pengeroyokan, pemukulan, atau tawuran yang sekarang ini masih dalam penyelidikan,” ujarnya seusai acara pembacaan Orasi Ilmiah Dies Natalis FIKOM Unpad ke 51, Bale Santika Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, hari ini.Dadang menyampaikan pihaknya menyayangkan adanya kekerasan terhadap media. Namun, dia juga menyayangkan media yang memunculkan pelajar SMA yang diduga pelaku padahal pemeriksaan terhadap orang yang dimaksud masih berlangsung.“Jurnalisme konflik itu seharusnya bukan menyosokkan salah satu, tapi mencari akar permasalahannya. Selesaikan, lalu cari solusi yang harus diberikan oleh semua pihak termasuk pihak media seharusnya tetap netral,” tuturnya.Dadang mengutarakan tayangan media saat ini banyak memunculkan pelaku yang sebetulnya belum dilakukan pemeriksaan, hanya karena anak tersebut di akun twitternya menulis sedemikian rupa.“Frammingnya tidak berimbang.  Kami menyayangkan pengeroyokan yang juga dilakukan media terhadap pihak SMA,” lanjutnya.Dadang menuturkan jurnalisme yang benar bukan hanya mempertimbangkan nilai berita dari sebuah peristiwa, melainkan juga mempertimbangkan makna di balik peristiwa itu, terutama mengenai konflik.“Sekarang ini pihak institusi pendidikan benar-benar dipojokkan, padahal para wartawan yang terlibat itu juga adalah buah dari institusi pendidikan,” terangnya.Ditemui di kesempatan yang sama, Dosen dan Pengamat Media dari Unpad Dede Mulkan juga menyampaikan rasa prihatinnya terhadap kasus tersebut. “Media seharusnya jangan dijadikan sebagai alat untuk meraih kepentingan pribadi. Media seharusnya bisa tetap pada posisi netral,” ujarnya.Dia menyarankan kasus pemukulan wartawan itu agar diselesaikan secara mediasi, atau jalur hukum sehingga media tidak terlalu berlebihan memberitakan kasus tersebut. “Ini kan wartawan lawan anak SMA, mereka masih bergejolak muda. Yah, wartawan sebagai pihak yang sudah dewasa harusnya bisa bersikap lebih dewasa,” ujarnya.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ixora Tri Devi

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top