Allianz genjot pasar ritel

JAKARTA: PT Allianz Utama Indonesia mengincar pasar ritel dengan menumbuhkan asuransi lini usaha kendaraan bermotor dan aneka (casualty).Perusahaan asuransi milik PT Allianz Indonesia tersebut berencana mengembangkan porsi segmen ritel dari 17% pada
Aurelia Nelly
Aurelia Nelly - Bisnis.com 18 September 2011  |  14:07 WIB

JAKARTA: PT Allianz Utama Indonesia mengincar pasar ritel dengan menumbuhkan asuransi lini usaha kendaraan bermotor dan aneka (casualty).Perusahaan asuransi milik PT Allianz Indonesia tersebut berencana mengembangkan porsi segmen ritel dari 17% pada semester I/tahun ini menjadi 20% dari total portofolio per akhir 2011.Don Nguyen, Direktur Utama Asuransi Allianz Utama Indonesia, mengatakan perseroan sedang mencoba menumbuhkan porsi bisnis segmen ritel dengan lebih cepat. Untuk itu, pihaknya akan lebih banyak masuk ke lini usaha kendaraan bermotor dan aneka.Dia menyebutkan porsi bisnis segmen ritel tumbuh dari 15% pada semester pertama tahun lalu menjadi 17% pada semester pertama tahun ini. Sementara itu, porsi kedua segmen lainnya, yaitu korporasi tetap di angka 79% dan segmen usaha kecil menengah (UKM) justru turun dari 6% menjadi 4%.Perseroan berencana menaikkan porsi segmen bisnis tersebut menjadi 20% dari total pendapatan premi bruto pada akhir 2011.“Berdasarkan riset kami, terjadi pergeseran demografi di Indonesia di mana pertumbuhan masyarakat kelas menengah tumbuh sangat cepat. Itu dapat diihat dari jumlah kendaraan dan mobil yang dijual. Kami tidak ingin ketinggalan gelombang dan akan menangkap pasar itu,” ujarnya, pekan lalu.Sepanjang semester I tahun ini, Allianz Utama mencatatkan pertumbuhan pendapatan premi bruto sebesar 6% dari Rp377 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp400 miliar. “Pertumbuan ini steady. Memang ada kenaikan meskipun tidak terlalu tinggi,” ujarnya.Menurut dia, pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan yang terjadi pada lini usaha kendaraan bermotor dan lini usaha aneka yang merupakan segmen ritel. Dia menuturkan segmen tersebut mulai menyeimbangkan portofolio.Lini usaha kendaraan bermotor mengalami pertumbuhan perolehan premi sebesar 73% dari Rp64,12 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp110,85 miliar pada semester I/2011.Adapun pendapatan premi bruto lini usaha aneka  tumbuh 44% dari Rp60,05 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp86,30 miliar pada semester I/2011.Namun di sisi lain, perolehan premi dari lini usaha marine, properti, dan engineering justru turun dengan persentase penurunan tertinggi terjadi pada lini usaha engineering.Lini usaha properti mencatatkan penurunan perolehan premi sebesar 15% dari Rp145,94 miliar pada semesterI/2010 menjadi Rp123,81 miliar pada semester I/2011. Pendapatan premi dari lini usaha marine turun 21% dari Rp36,92 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp29,02 miliar pada semester I/2011.Adapun pendapatan premi dari lini usaha engineering turun 27% dari Rp69,90 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp50,73 pada semester I/2011.“Kami memang akan fokus mengembangkan segmen ritel. Tapi bagaimana pun juga tidak akan meninggalkan segmen utama yaitu korporasi dan industrial karena sejak awal kami memang sudah dikenal kuat di segmen tersebut,” ujarnya.Victor Sandjaja, Wakil Direktur Utama  Asuransi Allianz Utama Indonesia, menambahkan pihaknya semakin banyak menerima bisnis dalam segmen ritel dan individu. Di sisi lain, tambahnya, pihaknya lebih selektif dalam underwriting di bisnis properti dan engineering.Dia memaparkan pertumbuhan bisnis ritel terefleksi dalam pendapatan premi netto yang tumbuh 33% dari Rp137 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp182 miliar pada semester I/2011.“Semakin banyak ritel dapat dilihat dari semakin banyaknya premi dan klaim. Oleh karena itu untuk menjaganya kami lebih ketat dalam underwriting. Kami juga lebih selektif lagi,” ujarnya.Sepanjang semester I tahun ini, klaim asuransi pada Allianz Utama turun 9% menjadi Rp116 miliar dari Rp128 miliar pada semester I/2010. Total aset perseroan pada periode tersebut mencapai Rp799 miliar, tumbuh 7% dari Rp747 miliar pada semester I/2010.Sementara itu pendapatan investasi turun 67% dari Rp37 miliar pada semester I/2010 menjadi Rp12 miliar pada semester I/2011. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top