FTA tekan pendapatan bea masuk

JAKARTA: Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan menilai penurunan pendapatan bea masuk sebagai konsekuensi logis dari perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement)."FTA [free trade agreement] itu selalu ada positif dan negatifnya. Kalau
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 September 2011  |  11:17 WIB

JAKARTA: Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan menilai penurunan pendapatan bea masuk sebagai konsekuensi logis dari perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement)."FTA [free trade agreement] itu selalu ada positif dan negatifnya. Kalau dari bea cukai, konsekuensinya tentu akan ada penurunan bea masuk, karena FTA itu mereduksi tarif bea masuk," kata Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono, kemarin.FTA memberikan keuntungan bagi negara mitra untuk menikmati pengurangan insentif bea masuk hingga 0%. Saat ini, Indonesia terikat kerja sama perdagangan internasional tersebut dengan kawasan Asean, China, India, Korea, Jepang dan New Zeland-Australia."Secara peluang, bisa dilihat tidak hanya dari penerimaan. Industri kita, juga akan mendapatkan FTA untuk ekspor ke negara partner dan mereka bisa mendapatkan peluang peningkatan usaha. FTA itu kan timbal balik, kita dengan negara lain, bisa bilateral bisa multilateral, jadi kita optimis saja lah," paparnya.Selain itu, Agung juga mengungkapkan volume impor sebagai instrumen penerimaan bea masuk. "Penurunan bea masuk itu konsekuensi logis. Impor kalau volumenya naik, mungkin penerimaan masih bisa, karena tidak semua tarifnya nol ya," tegasnya.Dalam RAPBN 2012, pemerintah menargetkan penerimaan bea cukai sebesar Rp 23,5 triliun atau naik 9,5% dari target APBN-P 2011 sebesar Rp 21,5 triliun. Asumsi ini didasarkan pada penerapan tarif efektif rata-rata sebesar 1,84%, dengan rincian bea masuk sektor riil sebesar Rp 22,5 triliun dan bea masuk DTP sebesar Rp 1 triliun.Menurut ekonom UGM, Anggito Abimanyu, penerimaan bea masuk RAPBN 2012 bisa ditingkatkan dengan tarif bea masuk MFN, bukan FTA tertimbang.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top