Sorotan: Menanti tanda yang tak kunjung tiba

"Jangan ketinggalan gerbong. Buruan masuk, sebelum harganya naik terlalu tinggi," demikian ungkapan yang lazim terdengar di antara pelaku pasar.Layaknya kereta api, bursa saham bergerak dengan rentang yang panjang, di mana bagian lokomotif sebagai penggerak
News Editor
News Editor - Bisnis.com 12 Juli 2011  |  08:23 WIB

"Jangan ketinggalan gerbong. Buruan masuk, sebelum harganya naik terlalu tinggi," demikian ungkapan yang lazim terdengar di antara pelaku pasar.Layaknya kereta api, bursa saham bergerak dengan rentang yang panjang, di mana bagian lokomotif sebagai penggerak pasar senantiasa berada di depan realitas ekonomi-bisnis, didorong oleh harapan atau ekspektasi.Mengikuti sifat alamiah pemodal yang penakut (antisipatif) tapi serakah (spekulatif), lokomotif bursa pun menjadi indikator untuk mengukur ekspektasi mereka terhadap kondisi ekonomi dan bisnis ke depan di suatu negara, baik dalam tataran makro maupun mikro.Tidak heran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rela hadir di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membuka transaksi perdana bursa pada 3 Januari 2011. Maklum, bursa saham melesat mengiringi masa jabatannya yang menunjukkan pasar 'happy' dengan kepemimpinannya.Lihat saja ketika Yudhoyono memenangi Pemilu pada Oktober 2004, indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya berada pada level 840. Namun pada 1 Juli 2011, indeks bursa telah mencapai level 3.900 atau melonjak empat kali lipat. "Kinerja pasar modal kita sangat impresif dan membanggakan," puji Presiden di depan pelaku pasar kala itu. Namun, pujian serupa untuk tahun depan mungkin harus disimpan dulu karena cerita kali ini agak berbeda. Sepanjang Januari-Juni, IHSG hanya tumbuh 4%, jauh dari pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 14,97%.Itu berarti dua hal. Pertama, ekspektasi pemodal memang masih positif terhadap kebijakan Yudhoyono dalam menyetir ekonomi-bisnis nasional. Namun kedua, ekspektasi tersebut meredup dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Ada banyak penjelasan di balik perlambatan indeks ini, yang tidak sepenuhnya berada di tangan Susilo Bambang Yudhoyono selaku 'masinis' perekonomian Indonesia. Faktor eksternal seperti suramnya ekonomi global tak boleh dilupakan efeknya terhadap bursa nasional."Salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan IHSG adalah sentimen negatif dari bursa global, terutama krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat [AS]," komentar analis PT e-Trading Securities Wisnu Karto.Di luar itu, lanjutnya, fenomena perlambatan indeks ini juga merupakan faktor teknis, karena pembandingnya, yakni pertumbuhan IHSG pada 2010 sudah naik terlalu tinggi mengikuti bullish komoditas global, tren yang kini juga meredup.Menurut Wisnu, ekspektasi pemodal telah memasuki titik-titik puncak, sehingga laju gerbong bursa pun melambat. "Pada 2009 dan 2010 indeks naik cukup kencang, sekarang sudah stabil. Masih menguat, tetapi tidak sebesar tahun lalu," ujarnya.Sepuluh penandaBagi ekonom senior Nomura Holdings Inc Yougesh Khatri, ekonomi Indonesia secara fundamental masih sangat menjanjikan dengan keunggulan demografi, sumber daya alam, dan situasi politik yang stabil meski ekonomi global masih belum pulih benar.Namun itu saja tidak cukup. Dalam risetnya berjudul Indonesia: Building Momentum, dia menilai ekspektasi pemodal atas pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% bisa terpenuhi, jika 10 penanda ekspekasi pemodal bisa dipenuhi pemerintah (lihat infografis)."Kami mengidentifikasi 10 penanda yang bisa digunakan untuk mengindikasikan Indonesia melampaui skenario terbawah [base case]. Jika direalisasikan, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8% pada 2015," tuturnya belum lama ini.Perbaikan infrastruktur menjadi ekspektasi terbesar pemodal, sehingga Nomura memasukkan tiga di antaranya sebagai penanda ekspektasi teratas di daftar tersebut. "Infrastruktur selama ini menjadi penyumbat ekonomi Indonesia," ujar Yougesh. Krusialnya isu infrastruktur ini bisa dipahami, karena sejak 6 tahun lalu Yudhoyono berkoar mengenai target jalan tol 1.697 kilometer, tatkala meresmikan jalan tol Cipularang. Komitmen yang diutarakan pada 12 Juli 2005 itu realisasinya kini masih jauh panggang dari api. Sampai sekarang, jalan tol yang telah beroperasi baru bertambah 73 km, atau hanya 4,5% dari target yang dipatok SBY. Jika dirata-rata, pemerintah membangun 15 km jalan tol per tahun. Itu artinya dibutuhkan waktu sebulan hanya untuk membangun 1,25 km jalan tol.Kendati demikian, Nomura masih optimistis mematok skenario terbawah produk domestik bruto (PDB) Indonesia berkisar 7% tahun ini, atau 0,6% di atas target pemerintah. Target ini juga relatif sama dengan proyeksi ekonom Faisal Basri yang menilai pertumbuhan 6% bisa tercapai, bahkan jika pemerintah tidur.Namun, sekian lama berekspektasi, pasar tampaknya kian jengah dengan kondisi sekarang. Melambatnya kenaikan bursa, yang mengindikasikan melambatnya ekspektasi pemodal terhadap kinerja ekonomi, merepresentasikan keprihatinan mereka atas lambatnya realisasi program kunci ekonomi seperti pembangunan infrastruktur dan energi.Lima tahun sudah pelaku pasar menabung ekspektasi, kini mungkin saatnya mereka menagih janji dengan menahan energi untuk masuk ke pasar. Tanpa konfirmasi realisasi program ekonomi krusial, seperti digaris-bawahi Nomura, tak heran laju lokomotif bursa terengah-engah mendaki.Yudhoyono tentu sadar, ekspektasi perlu dijawab dengan realisasi, agar bisa menjadi batu fundamen untuk ekspektasi selanjutnya. Tanpa itu, pasar yang hanya bermodal ekspektasi dipastikan berakhir sebagai gelembung (bubble), tinggal menunggu waktu untuk meletus. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top