Sejumlah pihak bantah terlibat 'SMS Nazaruddin'

JAKARTA: Kalangan aktivis prodemokrasi dan Anggota DPR membantah terlibat berperan dalam menyebarkan pesan singkat (SMS) yang seolah-olah mengatasnamakan Bendahara Umum Partai Demokrat nonaktif M. Nazaruddin.Koordinator Petisi 28 Haris Rusly Moti yang
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Mei 2011  |  11:55 WIB

JAKARTA: Kalangan aktivis prodemokrasi dan Anggota DPR membantah terlibat berperan dalam menyebarkan pesan singkat (SMS) yang seolah-olah mengatasnamakan Bendahara Umum Partai Demokrat nonaktif M. Nazaruddin.Koordinator Petisi 28 Haris Rusly Moti yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebar pesan singkat itu menjelaskan jika ada seseorang yang mengatasnamakan dirinya menyebarkan informasi yang menyudutkan seseorang atau partai politik tertentu, hal itu merupakan rekayasa seseorang untuk memperkeruh keadaan. "Semua yang tertulis dalam SMS dan mengatasnamakan Petisi 28 tersebut merupakan rekayasa dan fitnah. Kami tak pernah menyebarkan berita bohong apalagi mengatasnamakan dari politisi bermasalah seperti Nazaruddin, meski di lain pihak kami tahu kebobrokan rezim SBY di segala bidang. Namun, cara-cara kami bukan memfitnah," katanya hari ini kepada Bisnis.Sehari sebelumnya, di kalangan wartawan marak beredar pesan singkat yang mengaku sebuah pesan dari politisi Demokrat M. Nazaruddin di Singapura dengan nomor ponsel +6584393907.Adapun, isi pesan singkat tersebut adalah, "Demi Alloh, Saya M Nazaruddin telah dijebak, dikorbankan dan difitnah. Karakter, karier, masa depan saya dihancurkan. Dari Singapore saya akan membalas. Saya akan bongkar skandal mega korupsi Bank Century, korupsi Andi Malaranggeng dalam Wisma Atlit, Manipulasi data IT 18 juta juara dlm Pemilu oleh Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati"Namun, ketika Bisnis hendak menghubungi ke nomor ponsel berkode negara Singapura tersebut, tak tersambung dan hanya terdengar suara dari operator, "The SingTel mobile customer is not available.."Setelah pesan tersebut marak beredar, terdapat pesan singkat balasan yang menuding sejumlah pihak yang secara sengaja ingin berupaya menjatuhkan citra pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Adapun, isi pesan pendek tersebut adalah, "sms dan BBM [blackberry messenger] yang seolah-olah dilakukan oleh Nasrudin [maksudnya Nazaruddin] dari singapura, ternyata dilakukan oleh sebuah lembaga konsultan yang biasa bergerak di bidang tambang. Konsultan itu yang sekarang kelola akun twitter @benny_israel. Yang membiayai konsultan untuk serang SBY di dunia maya dan sosial media adalah group bakrie melalui operatornya Bambang Sosatyo, Andi Rahmat, Afdal Zikri, Zulkiflimansyah, Misbachun (tetap main. Twitter dari penjara), group primaironline, mukhlis Hasim, wahyu Muryadi dan seorang intelijen senior jaman orde baru. Beberapa penyebaran dilakukan oleh aktifis doekoen caf, dimana ada jhon mempi yang bekerja untuk usaha pertambangan. Haris Moty hanyalah kamuflase/umpan peluru dalam gerakan ini bersama adhie massardi. Salam."Bantahan serupa juga dikemukakan Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo yang disebut SMS tersebut sebagai operator dari Bakrie Group. "Saya tidak tahu apa-apa soal pesan singkat yang ramai dibicarakan. Saya malah tahu ketika hari ini membaca koran Rakyat Merdeka," katanya hari ini.Menurut dia, keinginan sejumlah pihak agar polisi dan aparat penegak hukum lainnya menangkap dirinya dan para pihak yang dituding telah memfitnah Partai Demokrat dan SBY merupakan langkah yang salah alamat. "Kalau polisi menangkap seseorang harus ada dasar dan fakta hukumnya. Kalau pesan singkat berantai ini mau dituntaskan, pemerintah memiliki aparat yang bisa menyelidikinya seperti BIN, BAIS dan aparat intelijennya yang lain. Kalau perlu, panggil pakar TI untuk memberikan second opinion," ujarnya.Menurut dia, sebagai politisi Partai Golkar, tidak elok jika mengurusi masalah partai orang lain. "Nazaruddin itu kan kasus mereka. Mau pura-pura berobat ke Singapura atau memang karena ada masalah lain, saya tak mau berpolemik. Apalagi mengirimkan pesan singkat yang berisi pembunuhan karakter," jelasnya. (ea)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top