Pancasila sebagai jati diri bangsa

Saat ini kita merasakan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sudah tidak terlihat lagi. Terlebih lagi di kalangan generasi muda saat ini yang tidak lagi akrab dengan istilah Pancasila. Pada masa Orde Baru (Orba),
Abdalah Gifar
Abdalah Gifar - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  15:40 WIB

Saat ini kita merasakan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sudah tidak terlihat lagi. Terlebih lagi di kalangan generasi muda saat ini yang tidak lagi akrab dengan istilah Pancasila. Pada masa Orde Baru (Orba), Pancasila dijadikan mata pelajaran yaitu Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Di luar dunia pendidikan pun ada penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang dilaksanakan Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7).

Pada era Orba, Pancasila selalu menjadi buah bibir, hingga muncul istilah tiada hari tanpa Pancasila dalam era itu. Namun, saat ini Pancasila meredup seiring masuknya kita ke era reformasi. Pancasila beserta berbagai perangkat sosialisasinya dipinggirkan karena dinilai telah dijadikan sebagai alat propaganda politik atau bahkan dituding telah diselewengkan menjadi alat legitimasi kekuasaan Orba.

Memang, kita tidak perlu menyakralkan kata Pancasila, tetapi bukan berarti pula kita ingin menghilangkannya. Pada masa Orba, penolakan terhadap Pancasila memang banyak dikaitkan dengan masalah penyakralan ini sehingga dituding nilainya lebih tinggi daripada agama. Padahal, upaya menyosialisasikan Pancasila pada masa Orba tidak lebih dalam rangka bagaimana istilah ini melekat dalam hati dan pikiran kita.

Pancasila adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya, karena Pancasila merupakan rangkuman dari nilai-nilai luhur yang digali dari akar budaya bangsa yang mencakup seluruh kebutuhan dan hak-hak dasar manusia secara universal. Karena itu, bangsa Indonesia sudah seharusnya mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai tersebut sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Jika Pancasila tidak segera kembali menjadi roh bangsa Indonesia, dikhawatirkan akan muncul ideologi alternatif yang akan djadikan landasan perjuangan dan pembenaran bagi gerakan-gerakan radikal. Karena itu, bagi bangsa Indonesia tidak ada pilihan lain selain mengembangkan nilai-nilai Pancasila agar keragaman bangsa dapat dijabarkan sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Fathya Meidiana, Jalan Warung Buncit No. 145, Jakarta Selatan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top