IDI dukung RUU pengendalian tembakau

JAKARTA: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendukung RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan (PDPTK) meskipun sejak diusulkan oleh 259 anggota DPR periode 2004-2009 belum disahkan.RUU PDPTK kemudian bergulir ke periode 2010 menjadi prioritas
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Desember 2010  |  13:21 WIB

JAKARTA: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendukung RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan (PDPTK) meskipun sejak diusulkan oleh 259 anggota DPR periode 2004-2009 belum disahkan.RUU PDPTK kemudian bergulir ke periode 2010 menjadi prioritas di nomor urut ke 28 pada Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2010. Namun, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mewakili industri rokok mengajukan RUU Pengendalian Produk Tembakau (RUU PPT).Menurut IDI, RUU PPT menghilangkan inti perjuangan pengendalian tembakau, yaitu kesehatan masyarakat dan perlindungan terhadap generasi muda dan orang miskin dari adiksi produk tembakau, anak, dan perempuan serta mereka yang tidak merokok dari paparan asap rokok lingkungan. RUU PPT dinilai memihak industri rokok dan petani dan mengenyampingkan substansi perlindungan kesehatan masyarakat, ungkap siaran pers yang diterima Bisnis hari ini.IDI mendukung RUU PDPTK, yaitu sebuah RUU yang berpihak kepada kesehatan masyarakat, yang memuat lima isu penting, yaitu membatasi akses anak terhadap produk tembakau/rokok, melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok, keharusan mencantumkan peringatan kesehatan dengan gambar pada setiap bungkus rokok sebesar 50% dari permukaan bungkus rokok bolak-balik, kebijakan harga dan cukai yang efektif, serta penerapan Kawasan Tanpa Rokok.IDI berpendapat RUU PDPTK adalah RUU yang seharusnya dibahas oleh DPR bersama dengan pemerintah demi terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik dan menghimbau pemerintah untuk segera memberikan akses kesepakatan internasional Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC).Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tentang The Global Tobacco Epidemic 2008, Indonesia menduduki urutan ketiga dalam hal jumlah konsumen produk tembakau di dunia setelah China dan India. Sebelumnya Indonesia menduduki urutan ke-5 di dunia, tetapi Jepang dan Amerika Serikat berhasil menurunkan prevalensi merokok masyarakatnya.Survei sosial ekonomi yang dilakukan Susenas pada 1995 dan 2001 dan Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan prevalensi merokok pada laki-laki dewasa di 2007 adalah 65,6%, meningkat 3,4% dari 2001. Prevalensi merokok pada perempuan dewasa juga meningkat sebesar 3,9% pada 2007 dibanding 2001 sebesar 1,3%. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top