Perkenalkan, asuransi facebook!

Hery Trianto
Hery Trianto - Bisnis.com 29 Desember 2010  |  04:38 WIB

JAKARTA: Mark Elliot Zuckerberg tidak kenal dengan Nur Hasan Kurniawan yang berasal dari Kudus, kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Mark pun bukan agen dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) atau pengurus harian dari Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (ADPLK) di mana Nur Hasan beraktifitas.

Keduanya memang berparak, tapi mereka punya ghirah yang sama di bidang yang jauh berlainan. Mark, 26 tahun, dengan brilian mampu menciptakan jejaring sosial terhebat saat ini Facebook, sementara Nur Hasan, 37 tahun, tak mau kalah, semangatnya masih menggelora untuk mendorong sosialisasi industri DPLK secara nasional.

Si jenius Mark bulan ini ditahbiskan sebagai Person of the Year oleh majalah TIME seperti dikutip dari situs resmi majalah mingguan kenamaan di Amerika Serikat itu bulan ini. Bekas mahasiswa drop out dari Harvard University itu dianggap punya pengaruh signifikan selama 2010.

Penghargaan ini yang dulunya disebut Man of the Year diberikan kepada orang yang dianggap paling berpengaruh di dunia selama setahun dan tidak harus dalam cara yang positif.

Lalu apa hubungan Mark dengan DPLK apalagi Nur Hasan? Sebetunya Mark tak akan menyangka karya besarnya akan menjadi salah satu mesin paling ampuh di belantara jejaring sosial di dunia saat ini, pun Indonesia.

Facebook dan media jejaring sosial lainnya ternyata dinilai berpotensi digunakan oleh industri Asuransi, DPLK, dan multifinance untuk digunakan memasarkan produk dan faedah lainnya. Itu yang kini mulai disadari oleh pelaku industri keuangan.

Potensi memasarkan produk DPLK melalui Facebook itu ada apalagi kami di ADPLK selalu mengedepankan bagaimana sosialisasi kepada masyarakat apa itu DPLK, kata Nur Hasan yang juga Direktur DPLK Group Saving Manulife ini, awal pekan ini.

DPLK adalah program dana pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan program pensiun iuran pasti bagi perorangan baik karyawan maupun pekerja mandiri.

Nur Hasan mengatakan pihaknya membuka mata atas kemajuan jejaring sosial dan akan menyesuaikan diri seiring dengan upaya dalam mendorong sosialisasi DPLK lewat situs. Ada banyak program DPLK yang ada disitus bisa disosialisasikan dan simulasi lewat Facebook. Kami mengarah ke sana, katanya.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Mitra Integrasi Komputindo Didik Sunardi menilai betapa dahsyatnya pertumbuhan situs jejaring sosial a.l Facebook, Twitter, dan kawan-kawannya.

Menurut dia, besar potensi bisnis yang diraih jika perusahaan asuransi dan lembaga keuangan lainnya dapat memanfaatkan keunggulan jejaring sosial. Setiap perusahaan yang bergerak pada pelayanan konsumen seperti asuransi dan dana pensiun harus melihat space media. Saat ini bukan lagi media konvensional, televisi dan radio tetapi ada media baru, social media, katanya.

Keunggulannya, kata Didik, dengan media baru tersebut konsumen dapat langsung memberikan respon terhadap apa yang ditawarkan mengingat komunikasi jejaring berbasis dua arah atau narrowcasting bukan broadcasting sebagaimana media konvensional.

Didik benar. Di situs pemeringkat seperti Alexa, terpampang 500 situs paling tinggi diakses dan Facebook meraih posisi kedua setelah Google.com. Di Indonesia, awal pekan ini Alexa mencatat Facebook berada di urutan pertama dari 100 situs paling top disusul oleh Google.co.id dan Google.com.

Facebook bukan hanya urutan pertama di Indonesia tetapi Malaysia, Singapura, Turki, dan Filipina. Sayangnya belum ada data ditel terkait dengan berapa juta pengguna. Tapi jika mengetik kata Facebook lewat Google, terdapat 3,8 milar. Bandingkan dengan Twitter sebanyak 2,2 miliar, kata Asuransi sebanyak 12,5 juta, dan sebanyak 41.500 kata untuk kata multifinance.

Sebatas promosi

Dirut PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim mengamini analisis ini. Pihaknya bahkan sudah ancang-ancang menyiapkan sistem informasi guna mendukung pemasaran lewat Facebook. Tidak hanya promosi tetapi simulasi dan keunggulan lainnya.

Saya kira harus kami lakukan ya, karena kalau engga bisa ketinggalan. Kami sudah siapkan mengenai itu [jejaring sosial], katanya.

Memang ada beberapa institusi yang mulai memasarkan diri tetapi baru sebatas sebatas promosi a.l Dana Pensiun Pertamina, Dana Pensiun Danareksa, Dana Pensiun BNI, dan Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Bahkan Facebook digunakan oleh PT Asuransi Jiwa Bakri (Bakrie Life) untuk mengkampanyekan tagline Gagal bayar bukan berarti tidak ada jalan keluar.

Sayangnya, meski sudah banyak yang promosi, Didik menilai industri asuransi dan dana pensiun secara umum belum begitu memahami dampak dari media sosial mengingat masih terkendala prioritas bisnis. Seharusnya, katanya, tahun depan promosi dan simulasi produk bisa dituntaskan sehingga pemasaran jauh lebih mudah.

Sederhananya, katanya, dengan promosi lewat jejaring sosial, agen asuransi atau tenaga pemasaran DPLK dapat dinaikkan menjadi penasehat keuangan atau financial advisor.

Yang paling berat adalah perubahan berifikir wah nanti ide diambil perusahaan lain karena ada keterbukaan dan lainnya.

Kalau seluruhnya komplit, ide brilian Mark tak hanya digunakan untuk main-main oleh sebagian masyarakat Indonesia tapi dengan Facebook bisa membantu Nur Hasan dan industri DPLK dan asuransi secara umum untuk lebih memberi makna dalam menentukan jaminan hari tua dan bisnis risiko. Dan bisa saja kedua bisa saling mengenal jika suatu saat Mark tertarik jadi peserta DPLK? (mts/ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top