Korporasi China desak pembatasan penguatan yuan

SHANGHAI: Menjelang kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao ke Amerika Serikat pada bulan depan, perusahaan-perusahaan China malah mendesak pembatasan dalam penguatan yuan.Shen Wenrong, Chairperson Jiangsu Shagang Group Co, produsen baja swasta
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Desember 2010  |  09:49 WIB

SHANGHAI: Menjelang kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao ke Amerika Serikat pada bulan depan, perusahaan-perusahaan China malah mendesak pembatasan dalam penguatan yuan.Shen Wenrong, Chairperson Jiangsu Shagang Group Co, produsen baja swasta terbesar di China, mengatakan pemerintah Negeri Panda semestinya membiarkan apresiasi yuan dalam skala yang minimal karena bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terus mencetak uang untuk mendorong inflasi.Ma Weihua, Chief Executive Officer China Merchants Bank Co bank terbesar keenam di China berdasarkan nilai pasar-- menegaskan yuan semestinya jangan menguat terlalu cepat. The Fed juga dinilai harus mampu mengerem pembelian surat utang pemerintah AS US$600 miliar, atau dikenal dengan istilah quantitative easing tahap II."Kami ingin yuan menguat tapi kami tidak ingin laju apresiasi berjalan terlalu cepat. AS tidak bertanggung jawab. Mereka minta China menyesuaikan kebijakan yuan, tetapi seluruh dunia justru menderita akibat pelonggaran moneternya," tutur Ma hari ini.Xia Jingjiang, General Manager Topshow Outdoor Products Co, produsen topi baseball dengan logo korporat, meyakini pemerintah China tidak akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi negaranya dengan mempercepat apresiasi yuan.Dia mengungkapkan perusahaan terpaksa menaikkan harga topi sebanyak 3% akibat penguatan yuan pada semester II/2010. Yuan telah menguat 3,1% sejak 21 Juni, saat bank sentral China (Peoples Bank of China/PBOC) mengumumkan akhir kebijakan kontrol yuan, yang sebelumnya dipatok di level sekitar 6,83 per dolar AS untuk melindungi eksportir selama krisis keuangan global.Desakan untuk membatasi penguatan yuan oleh para eksekutif China tersebut berbeda dengan sikap yang mereka tunjukkan pada Maret 2010. Ketika itu, mereka mendukung rencana PBOC mengentikan kontrol yuan.Keinginan mereka yang berbalik arah juga mencerminkan kekhawatiran ekspansi ekonomi di negara berpopulasi terpadat di dunia itu bisa melambat seiring langkah PBOC menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi tercepat sejak 2008.Mengacu pada kontrak yuan, para trader meyakini penguatan yuan akan terbatas sebelum kunjungan Hu Jintao ke Washington bulan depan. Yuan diperkirakan menguat sebesar 2,1% pada 2011. Berdasarkan data Bloomberg, kontrak yuan 1 bulan diperdagangkan 6,6180 per dolar AS pada pukul 11:41 waktu Hong Kong, kemarin, mensinyalkan sedikit penguatan dari nilai transaksi saat ini 6,6229. Kalangan analis memprediksi yuan akan menguat 5,5% menjadi 6,28 sebelum akhir 2011.Pada 6 Desember, 30 senator AS mengirim surat kepada Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan yang berisi desakan agar yuan menguat lebih besar. Penguatan yuan telah membuat cadangan devisa China membengkak hingga US$2,65 triliun. Sistem keuangan juga dibanjiri yuan. Surplus dagang negeri itu bahkan melampaui US$20 miliar untuk kelima kalinya dalam 6 bulan pada November. EPFR Global, perusahaan peneliti modal dunia, mencatat bursa saham di negara emerging telah dibanjiri dana asing hingga menyentuh rekor US$92,5 miliar, sedangkan dana obligasi di negara berkembang dibanjiri inflow US$52,5 miliar pada tahun ini.Namun, sejauh ini, kebijakan Federal Reserve belum menyebabkan pelemahan dolar AS yang berarti atau inflasi yang lebih cepat di negara pimpinan Presiden Barack Obama itu. Indeks dolar IntercontinentalExchange Inc, yang memantau pergerakan kurs dolar terhadap 6 mata uang mitra utama dagang AS, justru menguat 5% sejak 3 November, ketika quantitative easing tahap II diumumkan.Kalangan ekonom yang disurvey Bloomberg memproyeksikan harga konsumen di negeri Paman Sam akan meningkat di level 1,5% pada 2011, lebih rendah dari proyeksi 2010 sebesar 1,6%. (bsi/dea)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top