World Vision bantu korban Merapi US$800.000

JAKARTA: World Vision Indonesia sampai akhir Januari 2011 membantu para korban bencana letusan Gunung Merapi sebesar US$800.000, kata manajer publikasi World Vision Bartolomeus Marsudiharjo hari ini.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 28 Desember 2010  |  05:48 WIB

JAKARTA: World Vision Indonesia sampai akhir Januari 2011 membantu para korban bencana letusan Gunung Merapi sebesar US$800.000, kata manajer publikasi World Vision Bartolomeus Marsudiharjo hari ini.

Lembaga yang sudah berdiri selama 50 tahun di Indonesia ini, secara terus menerus membantu anak-anak dan korban bencana yang terjadi. World Vision yang bergerak di seluruh Indonesia dan terdapat di 44 Kabupaten lewat Development Area Program, selalu merespon bencana yang terjadi seperti pada tahun ini di Mentawai, Gunung Merapi, Sinabung, di Sumatra Utara.

Sebagai lembaga respon bencana , kata Marsudiharjo, World Vision sudah cukup berpengalaman dan memiliki standar tindakan yang dilakukan setiap kali ada bencana, seperti pada bencana Merapi.

Sebelum Gunung Merapi meletus, saat ada tanda-tanda akan meletus, World Vision sudah mengirim tenaga ke sekitar Gunung Merapi. Begitu gunung meletus, langsung menambah tenaga bantuan untuk masyarakat korban bencana itu.

“Sedikitnya 15 tenaga dari Jakarta yang diterjunkan ke sana dan tujuh tenaga lokal yang direkrut untuk menangani administrasi dan distribusi bantuan ke lapangan,†kata Marsudiharjo.

“Menyongsong 2011, kami semakin menyadari perlunya menyiapkan masyarakat sendiri sadar penanggulangan bencana, perlunya dengan pelatihan-pelatihan, program pelatihan disesuaikan bencana yang sering didaerah tersebut, “ kata Masudiharjo.

Sebenarnya pelatihan itu sudah berangsung melalui sekolah (SD dan SMP).

Sementara itu Media Rekations World Vision Indonesia Ikene Sere Edwina mengatakan bahwa World Vision fokusnya pada anka-anak dan komunitas. Setelah pelatihan terhadap anak-anak dan remaja, kemudian latihan diberikan pada orang dewasa atau orangtua anak-anak tersebut.

Pada sisi lain World Vision, kata Irene, bekerja lewat tiga aspek yaitu tanggap bencana, advokasi, dan lewat jangka panjang ‘community development’ di 44 kabupaten selama 10-15 tahun.

Program ini untuk mengembangkan ekonomi masyarakat , kesehatan dan pendidikan. “Walaupun tak ada bencana aktivitas tetap berlangsung, †kata Masudiharjo.

Menurut Ikene, World V ision memiliki 90.000 anak santun. Bila ada bencana di daerah anak santun, langsung ditanyakan bagaimana keadaan anak santun.Sementara melalui advokasi pihaknya membuat komik-komik dan film bagaimana menanggulangi bencana.

Salah satu bentuk bantuan dari World Vision Indonesia terhadap korban bencana Gunung Merapi adalah Perpustakaan Keliling dengan dua kendaraan yang memuat masing-masing 1800 buku bacaan anak-anak.

Setiap hari sampai saat ini kedua mobil tersebut keliling desa atau sekolah pada pagi hari, siang hari [jam pulang sekolah]dan sore hari. “Setiap hari saya keliling dua titik (tempat) sampai tiga titik. Dari satu titik ke titik jaraknya beberapa kilometer, kemudian keesokannya kami bergerak ke tempat lainnya,†kata Herry Aryanto, petugas Perpustakaan Keliling dari World Vision.

Bagaimana pengawasan atau pemeliharaan terhadap bantuan yang telah diberikan?“Kami bekerja melibatkan masyarakat setempat dan menyerahkan kepada mereka untuk merawatnya bantuan yang diberikan seperti sekolah dan lainnya,†kata Masudiharjo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top