Menanti 'mujizat Senayan' untuk tim Garuda

AC Milan adalah cinta pertama saya kepada sepakbola. Kaka datang kemudian dan membikin saya makin cinta Rossoneri.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 Desember 2010  |  02:06 WIB

AC Milan adalah cinta pertama saya kepada sepakbola. Kaka datang kemudian dan membikin saya makin cinta Rossoneri.

Namun, apa mau dikata, cinta itu pula yang membuat pertandingan menentukan di Ataturk Stadium, Istanbul, pada sebuah Mei yang buram lima tahun silam menjadi terlalu traumatis untuk dikenang.

Saya harus akui, sulit sekali melupakan naik turun emosi yang tercipta sepanjang laga klasik itu. Antara Milan melawan Liverpool. Di final Liga Champions.

Dalam 45 menit pertama, Milan seolah pasti juara karena keunggulan 3-0 yang tampak begitu mudah diraih. Saya ingat banget sudah jingkrakan merayakan kemenangan (sementara) di tengah nonton bareng teman-teman mahasiswa di Yogyakarta. Saya tertawa dan berteriak puas. Milan juara! Milan juara! seruku berulang-ulang.

Tak dinyana, situasi sukacita itu segera berubah jadi ketegangan teramat sangat tatkala pada babak kedua Liverpool tampil luar biasa bagus, solid, dan gigih. Mereka bermain bak dunia akan kiamat jika wasit meniup peluit akhir.

Bagaimana hal semacam ini mungkin di bawah langit: Liverpool mencetak tiga gol balasan dalam enam menit! Milan pun terkulai.

Hasil akhirnya, Anda tentu tahu juga, The Anfield Gang yang belum pernah lagi bermain di partai final Liga Champions sejak Heysel 1985, memenangkan game itu lewat adu tendangan penalti. Saya ingat betul, semua pemain Milan menangis sesenggukan seusai pertandingan sebagai tanda penyesalan mendalam.

Andry Shevchenko yang gagal mengeksekusi penalti bagi Milan benar-benar tak bisa kembali ke bentuk permainan terbaik sesudahnya, hingga akhirnya dilepas ke Chelsea pada 2007. Di kubu lain, malam itu merupakan momentum kemunculan kebintangan Steven Gerrard, salah satu kapten terbesar The Kop sepanjang masa.

Tak diragukan lagi, malam itu menyisakan luka yang bakal lama lekang oleh waktu bagi Milanisti. Saking dramatisnya, kemenangan Liverpool di Turki selalu dirujuk sebagai Mujizat Istanbul.

Beri terbaik

Hari ini, ketika dalam hitungan jam, tim nasional Indonesia harus menghadapi partai hidup mati dengan pasukan Malaysia yang telah unggul 3-0 di pertemuan pertama, saya sungguh berharap Firman Utina dan kawan-kawan mengingat mujizat di Istanbul.

Kondisinya kurang lebih sama kok. Timnas Garuda ketinggalan tiga gol dengan separuh sisa waktu pertandingan. Saya membayangkan pemain Malaysia tengah jumawa, persis seperti Paolo Maldini dkk di ruang ganti Stadion Ataturk, karena berpikir piala sudah dalam genggaman.

Suporter tim Negeri Jiran pun pasti telah dilanda keyakinan membuncah akan kesuksesan merebut Piala AFF tahun ini. Mereka mungkin sadar berpeluang besar kalah pada leg kedua di Jakarta, tetapi asal selisihnya tak lebih dari dua gol, maka Malaysia akan juara.

Bagaimana pun, sungguh berat bagi Indonesia untuk menjebol jala Khairul Fahmi Che Mat sampai tiga kali tanpa sekali pun gawang Merah Putih ditembus.

Namun, bila skenario ini yang terjadi, yaitu skor 3-0 untuk Indonesia, pertarungan bakal diteruskan dengan tos-tosan penalti. Malaysia pun kehilangan keunggulan yang mesti direnggut dengan susah payah, bahkan sampai menggunakan laser dari penonton yang curang!

Sekali lagi, tak akan mudah bagi tim asuhan Alfred Riedl melakukannya. Memang, kita menang 5-1 kala bersua di babak penyisihan. Namun, kita baru saja kalah tiga gol tanpa balas dengan level permainan yang harus diakui tidak sebaik sebelumnya. Pertahanan empat pemain sejajar di belakang terlalu mudah dieksploitasi lawan. Mampukah kita mengubah penampilan buruk tersebut?

Harapan masih ada. Liverpool telah mengajarkan bagaimana bermain bola dengan hati sebuas singa dan akal secerdik serigala. Bagi saya, sekarang tantangannya bagi Tim Garuda bukan lagi memenangkan pertandingan dan juara, tetapi berlaga sebaik mungkin. Itu saja dulu.

Kita berharap 11 pemain kebanggaan Indonesia nanti mempertontonkan performa terbaik mereka selama Piala AFF. Kita ingin mereka bertarung sepenuh hati, sebaik-baiknya, bukan untuk Pak Presiden, ketua parpol, politisi, atau pengurus PSSI yang tak becus mengurus kompetisi.

Sebaliknya, mereka main untuk diri sendiri dan keluarga. Tampil untuk 235 juta warga Indonesia yang akan mendukung hingga detik terakhir pertandingan.

Dus, soal hasil akhir, kita urus belakangan. Terlepas dari kekalahan Milan di Istanbul, saya lebih memilih mengenang permainan indah mereka pada paruh pertama: Kaka yang melesat lincah seperti kijang, Gattuso yang menyeruduk ibarat banteng luka, dan Pirlo yang menyihir dengan umpan dari surga. Bagi saya, Milan juga juara hari itu.

Begitulah saya ingin mengingat timnas pada Rabu malam nanti. Menang atau kalah, juara atau tidak, yang penting permainan indah nan memukau.

Anak-anak Garuda, youll never walk alone! (men.yon@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top