Adaro incar tambang dengan cadangan 300 juta ton

JAKARTA: PT Adaro Energy tbk berharap bisa mengakuisisi tambang batu bara dengan cadangan minimal 300 juta ton.
Tiara Syahra Syabani
Tiara Syahra Syabani - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  04:11 WIB

JAKARTA: PT Adaro Energy tbk berharap bisa mengakuisisi tambang batu bara dengan cadangan minimal 300 juta ton.

Deputy Corporate Secretary Adaro Energy Devindra Ratzarwin mengatakan untuk akuisisi tambang batu bara pihaknya masih memiliki dana yang mencukupi sehingga saat ini Adaro belum menyiapkan opsi pendanaan tambahan untuk rencana tersebut.

Dia menjelaskan sumber pendanaan akuisisi tersebut bisa saja diambil dari standby facility dari beberapa bank sekitar US$500 juta, sisa dana bond yang sekitar US$340 juta, serta kocek kas internal yang masih sebesar Rp6 triliun.

"Dana kami masih cukup. Adaro masih terus liat-liatlah mana yang cocok. Semua tambang di Tanah Air kami lihat misalnya Kalimantan dan Sumatera. Kami inginnya tambang yang punya reserves minimal 300 juta ton," ujar Devindra, akhir pekan lalu.

Sayangnya, Devindra masih enggan membuka identitas tambang-tambang mana saja yang sudah dilirik pihaknya. Ketika ditanya mengenai jumlah dan kapan target akuisisi tambang batu bara tersebut, dia pun enggan membeberkannya. Begitu pula, soal kabar akuisisi terhadap PT Bhakti Energi Persada, Devindra enggan menjelaskan perkembangannya.

Terkait produksi tahun depan Adaro menargetkan bisa memproduksi batu bara sebanyak 46 juta-48 juta ton. Akan tetapi, Devindra menyebutkan jika target itu bisa saja direvisi jika tingkat curah hujan di Tanah Air ternyata tinggi.

Untuk tahun ini, Adaro membidik volume produksi pada angka 42 juta-43 juta ton. Dari angka tersebut Adaro mensupply batu bara untuk pasar domestik sekitar 25% atau sekitar 11 juta ton tahun ini. Adaro mencanangkan target produksi sebesar 80 juta ton pada 2014.

Tahun depan, Adaro berencana menambah pasokan batu bara ke ke PT Perusahaan Listrik (Persero) sebanyak 2 juta ton. Adapun saat ini, Adaro sudah memasok kebutuhan batu bara untuk PLN sekitar 6 juta-11 juta ton. Guna menggenjot peningkatan produksinya, Adaro berencana menggelontorkan US$464 juta untuk belanja modalnya. Anggaran tersebut diambil dari kas internal.

Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir sempat mengungkapkan pihaknya berniat membangun overland conveyor sepanjang 68 km yang diperkirakan mampu menghemat biaya hingga US$1,5 per ton. Namun pelaksanaannya akan dilakukan setelah kajian menyeluruh terutama menyangkut dampak sosialnya.

Selain itu, perseroan juga tengah mengkaji transportasi yang sudah ada yakni dari area penambangan di sekitar Tanjung Kalimantan Selatan, sampai dengan fasilitas pemorosesan akhir di terminal Sungai Kelanis.

Saat ini, Adaro berharap bisa mendapatkan tender proyek pembangkit listrik berstatus independent power producer (IPP) untuk PLTU berkapasitas 2x100 MW yang berada di Tanjung, Kalimantan Selatan. Untuk proyek ini, perseroan menggandeng Mitsui.

Adaro juga masih mengikuti tender PLTU Pemalang yang memiliki kapasitas 2x1.000 MW. Pada proyek tersebut Adaro membentuk konsorsium dengan J Power dan Itochu. Rencananya mega proyek ini akan diselesaikan dalam durasi 1,5 tahun.

Perseroan juga membidik pengerjaan pembangunan rel kereta api di Kalimantan Tengah yang nilai investasinya dikabarkan mencapai US$2,2 miliar. Proyek tersebut diselenggarakan Pemerintah daerah Kalteng dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Proyek tersebut merupakan public private partnership (PPP).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top