Superblok dianggap bisa kurangi kemacetan

JAKARTA: Pembangunan superblok di Jakarta dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi kemacetan lalu lintas karena berpotensi cukup besar mengurangi aktivitas perjalanan orang di Ibu Kota.
Sekretariat Redaksi
Sekretariat Redaksi - Bisnis.com 24 Desember 2010  |  08:40 WIB

JAKARTA: Pembangunan superblok di Jakarta dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi kemacetan lalu lintas karena berpotensi cukup besar mengurangi aktivitas perjalanan orang di Ibu Kota.

Ahli transportasi Universitas Indonesia Alvinsyah mengatakan aktivita perjalanan orang menjadi berkurang karena hampir semua kebutuhah untuk bisnis, perkantoran, hunian, dan tempat rekreasi keluarga tersedia di sana."Semua kebutuhan orang untuk berbisis, perkantoran, hunian, tempat rekreasi keluarga tersedia di kawasan superblok sehingga orang tidak perlu melakukan perjalanan jauh dan tidak menambah kemacetan di jalan," katanya di Jakarta hari ini.Dia mengatakan agar pembangunan superblok dapat sejalan dengan rencana pembangunan kota Jakarta maka Pemprov DKI harus mengawasi secara ketat pembangunan kawasan terpadu itu sehingga tidak menyalahi rencana tata ruang wilayah yang sudah ditetapkan.Dengan demikian, lanjutnya, keberadaan superblok tidak akan menimbulkan masalah bagi tata ruang kota dan lingkungan sekitarnya, misalnyan menimbulkan kemacetan yang lebih parah pada akses untuk masuk dan keluar kendaraan, serta banjir akibat hilangnya ruang terbuka hijau."Sebab, superblock juga berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas yang lebih parah jika orang-orang yang berkantor di dalamnya berasal dari wilayah lain, seperti halnya kawasan kota baru di luar Jakarta yang ternyata penghuninya tetap bekerja di Jakarta," ujarnya.Alviansyah mengatakan pemanfaatan lahan baik untuk bangunan perkantoran, pusat bisnis dan superblok dapat menjadi sumber utama terjadinya kemacetan lalu lintas yang lebih parah jika tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.Dihubungi secara terpisah Ahli Tata Kota Univesitas Tarumanagara Suryono Herlambang mengatakan banyak superblok di Jakarta dibangun dengan tidak memperhatiakan masalah lingkungan secara baik, yang mencakup ruang terbuka hijau dan resapan air.Taman sebagai ruang terbuka hijau di kawasan superblock itu dibangun di bangunan yang berfungsi sebagai basement untuk areal parkir kendaraan atau ruang perkantoran, sehingga fungsi resapan air hujannya tidak berfungsi optimal."Akibat ruang terbuka hijau yang dibangun diatas bangunan basement tersebut maka fungsi resapan airnya tidak maksimal. Ketika terjadi hujan, airnya tidak terserap ke dalam tanah tetapi dialirkan ke luara dari kawasan superblock dan membanjiri kawasan di sekitarnya," ujar dia.Suryono juga mengatakan optimalisasi penggunaan lahan untuk bangunan di kawasan superblok sering kali mengabaikan fungsi sosialnya, baik untuk penyediaan ruang terbuka hijau, resapan air hujan, dan saranan transportasi bagi warga penghuninya yang berasal dari tempat lain. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top