Kalimantan Gold raup US$1,27 juta

JAKARTA: Kalimantan Gold Corporation Ltd, emiten Bursa Efek Toronto dan Bursa Efek London yang memiliki konsesi tambang emas, batu bara, dan tembaga di Kaltim dan Kalteng, hari ini meraih 1,29 juta dolar Kanada dari pelepasan 16,12 juta sahamnya.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 Desember 2010  |  12:46 WIB

JAKARTA: Kalimantan Gold Corporation Ltd, emiten Bursa Efek Toronto dan Bursa Efek London yang memiliki konsesi tambang emas, batu bara, dan tembaga di Kaltim dan Kalteng, hari ini meraih 1,29 juta dolar Kanada dari pelepasan 16,12 juta sahamnya.

Nilai transaksi private placement yang setara dengan US$1,27 juta tersebut, kutip keterangan manajemen kepada Bursa Efek Toronto hari ini, diperoleh dari harga pembelian saham per unit yang disepakati 0,08 dolar Kanada atau setara dengan 0,05 Euro. Investor pembeli saham itu adalah broker asal Inggris yakni Alexander David Securities Ltd, serta investor lain dari Australia dan Asia. Tak ada perincian baik tentang volume pembelian maupun nama dua investor lain yang disebut belakangan tersebut.Deputy Chairman dan CEO Kalimantan Gold Rahman Connelly mengatakan manajemen senang dengan minat investor yang begitu besar terhadap private placement itu. "Dengan minat tersebut, kami bisa terus melanjutkan proyek kami di Kalimantan," katanya.Proyek yang dimaksud Rahman adalah tambang emas Jelai yang dibiayai bersama dengan Tigers Realm Minerals Pty Ltd, mitranya di proyek tersebut. Tigers Realm, perusahaan tambang yang berbasis di Melbourne, Australia ini, meneken joint venture itu 2 Desember lalu.Di Indonesia, Kalimantan Gold memiliki tiga anak usaha, yaitu PT Jelai Cahaya Minerals (emas), PT Kalimantan Surya Kencana (tembaga dan emas), dan PT Indobara Pratama (batu bara). Satu anak perusahaan lain tercatat di Hong Kong, yakni Indokal Ltd.Pada kuartal II/2010, konsesi tambang milik Indobara Pratama yang tahun depan ditargetkan memproduksi 10 juta ton batu bara ini sempat akan dilepas ke Daun Consulting Ltd. Namun, tranksaksi itu gagal karena Daun Consulting gagal membayar deposit sebesar US$1 juta. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top